“Pencerita Keselamatan”: Renungan, Sabtu 22 September 2018

0
2058

Hari Biasa (H).

1Kor. 15:35-37,42-49; Mzm. 56:10,11-12,13-14; Luk. 8:4-15.

Kebanyakan orang suka untuk mendengar saat orang lain bercerita. Bahkan lebih dari itu, mereka berusaha untuk menyimak apa yang dikatakan itu. Ketika seseorang bercerita sesuatu yang baik, tentu kita ingin mendengarkannya dan kita pun penasaran dengan apa yang hendak diceritakan.

Dan ketika kita mendengarkan cerita itu dengan kesungguhan hati pasti kita akan mengingat dan dapat menceritakannya serta melakukan apa yang baik itu kepada orang lain. Tetapi ada juga pendengar yang hanya mendengarnya tapi tidak dengan kesungguhan hati menyimaknya.

Hari ini Yesus bercerita kepada kita tentang perumpamaan seorang penabur benih. Perumpamaan ini sesungguhnya hendak berbicara mengenai keselamatan menuju Kerajaan Allah. Cerita keselamatan itu adalah Sabda Allah.

Maka, Yesus berkata: “Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah Firman Allah….” Dalam Injil ditampilkan belas kasih Allah yang tak pernah berkesudahan kepada kita umat-Nya. Maka Allah hendak menunjukkan cara hidup yang baik dan benar lewat hidup nyata dari Putra-Nya dan dari Sabda-Nya sendiri. Perumpamaan itu menghantar kita pada refleksi mengenai cara hidup yang baik dan pantas sebagai manusia.

Persoalannya, apakah kita mau atau tidak mendengarkan dan menghidupi benih yang adalah Sabda Allah itu? Kita yang tidak siap mendengar dan menerima Sabda Allah itu, digambarkan layaknya benih yang jatuh di pinggir jalan; mereka telah mendengarnya kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.

Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.

Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.

Akan tetapi kita yang mendengarnya dengan siap sedia dan kesungguhan hati, menyerahkan seluruh hidup kita, berbuah dalam ketekunan dan memperoleh keselamatan di Surga. Kita yang sudah mendengar sabda Tuhan, berkewajiban untuk mengaplikasikannya dalam hidup kita sehari-hari melalui pikiran, perkataan dan perbuatan kita.

Kita juga dapat menjadi penerus cerita keselamatan ini kepada orang-orang di sekitar kita, sehingga mereka juga dapat hidup dengan baik dan benar sesuai dengan Sabda Allah.

(Fr. Sonny Songbes)

“Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan” (Luk. 8:15).

Ya Tuhan, berilah aku Rahmat-Mu supaya mampu menjadi pewarta-Mu yang setia dan bijak. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini