“Jangan Gegabah”: Renungan, Rabu 29 Agustus 2018

0
3474

Pw Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Mrt (M)

Yer. 1:17-19; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17; Mrk. 6:17-29

Penyesalan selalu datang dari belakang! Begitulah kata orang. Dalam hidup, orang cenderung membuat suatu keputusan tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Inilah yang sering kali mendatangkan kesalahan yang mengakibatkan penyesalan dan bahkan kerugian bagi diri sendiri.

Hari ini kita mengenang kembali peristiwa wafatnya Santo Yohanes Pembaptis. Ia merupakan salah seorang tokoh yang memiliki peranan penting dalam mempersiapkan kedatangan Yesus Kristus. Sebagai seorang nabi yang memiliki kewibawaan, Yohanes Pembaptis berani menegur raja Herodes, yang sudah salah mengambil tindakan dan melanggar hukum.

Herodes dengan sengaja bertindak tidak benar terhadap saudaranya, dengan mengambil istri saudaranya dan menjadikan istrinya. Yohanes menegur Herodes, katanya: “Tidak halal engkau mengambil istri saudaramu”. Ungkapan ini menjadi teguran ‘keras’ terhadap Herodes dan Herodias, sehingga Herodias sangat membenci Yohanes dan ingin membunuhnya. Herodes sendiri takut dan segan kepada Yohanes, karena menurutnya Yohanes adalah orang benar walaupun sering membuat hati Herodes terombang-ambing.

Pada pesta ulang tahun raja Herodes, yang diadakan bersama dengan para pembesar dan para perwira serta orang-orang terkemuka di Galilea, raja Herodes mengalami sukacita yang luar biasa, ketika melihat putri Herodias menari. Maka dalam suasana sukacitanya, Herodes bersumpah dan berkata kepada putri Herodias di muka para tamunya bahwa apa saja yang diminta oleh putrinya akan diberikan, walaupun setengah dari kerajaannya.

Ungkapan inilah yang membuat Herodes menyesal, sebab atas hasutan ibunya maka putri itu menghendaki kepala Yohanes Pembaptis. Maka, dengan terpaksa dan takut dipermalukan di hadapan para tamu, Herodes mengabulkan permintaannya.

Perbuatan Herodes serentak juga mencerminkan tindakan kita semua. Kita juga terkadang seperti Herodes yang membuat suatu keputusan tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Kisah Yohanes dan Herodes hendak mengajarkan kepada kita bahwa, baik dalam suasana senang ataupun susah, janganlah cepat-cepat membuat suatu keputusan. Karena keputusan yang kita buat belum tentu menyukakan hati kita, melainkan bisa saja membuat kita menderita dan terperangkap dalam kesalahan kita sendiri.

Kita harus tetap waspada dalam melakukan sesuatu dan jangan sampai mengambil suatu kebijakan atau keputusan, karena kesombongan akan obsesi kita terhadap sesuatu. Yohanes Pembaptis telah menunjukkan kepada kita semua bahwa kebenaran dan keadilan itu jauh lebih penting. Ia tidak memandang jabatan dalam mewartakan kebenaran. Sebagai murid Yesus, kita juga harus berani mengatakan apa yang benar dan harus dilakukan, bukan menyembunyikannya.

(Wilhelmus Baluk)

“Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, walaupun setengah dari kerajaanku!” (Mrk. 6:23)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, kuatkan saya selalu dalam suasana susah dan senang. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini