“MENGAMPUNI KARENA CINTA”: Renungan Rabu, 14 Februari 2024

0
1131

Rabu Abu (U)

Yl. 2: 12-18; Mzm. 51: 3-4, 5-6ab, 12-13, 14 dan 17; 2 Kor. 5:20 – 6:2; Mat. 6: 1-6, 16-18

Saudara terkasih, dalam perjalanan hidup kita, kita dapat melihat banyak orang yang suka memberi sesuatu kepada sesama. Memberi sesuatu yang baik merupakan tindakan yang patut dipuji. Namun ada kalanya beberapa dari mereka melakukan hal tersebut karena hanyut dalam pujian yang diperoleh setelah melakukan perbuatan tersebut. Mereka hanyut dalam suasana hangat ketika dipuji oleh orang lain karena perbuatan baik yang mereka lakukan.

Hari ini kita mendengar perkataan Yesus, bahwa kita tidak boleh menjadi munafik dalam melakukan segala sesuatu. Apapun yang kita lakukan, entah itu berdoa maupun bersedekah, harus kita lakukan bukan semata-mata karena mencari pujian dan kehormatan. Lebih dalam lagi, Yesus mengajarkan untuk tidak pamer ketika memberi sesuatu. Hal itu menjadi jelas dalam ungkapan, “Jika kamu memberi sedekah, jangan meniup terompet di hadapanmu.” Demikian juga perintah untuk tidak munafik ada dalam ungkapan “Tetapi ketika kamu memberi sedekah, jangan biarkan tangan kirimu mengetahui apa yang dilakukan tangan kananmu.”

Hari Rabu Abu ini menjadi salah satu momen yang menyadarkan kita bahwa kita adalah pribadi yang rendah di hadapan Allah. Allah sendiri telah menunjukkan bagaimana Ia memberikan sesuatu kepada kita, yang dalam hal ini adalah pengampunan, bukan semata-mata karena mencari pujian atas kebesaran-Nya. Allah memberikan pengampunan kepada kita oleh karena kasihNya yang begitu besar. Sengsara dan kematian PuteraNya yang akan menjadi permenungan intens kita pada masa-masa ini, merupakan bukti nyata bahwa pengampunanNya diberikan dengan dasar kasih dan bukan karena mencari pujian.

Saudara terkasih, kita menerima segalanya dari Tuhan, termasuk pengampunanNya, karena cintaNya. Pantaslah hal tersebut mendorong kita untuk mampu juga memberikan apa yang kita miliki, termasuk mampu untuk mengampuni sesama dengan dasar kasih, bukan karena mencari pujian. Cinta menggerakkan kita untuk berbagi dan mengampuni dengan tulus, tanpa mengharapkan bahwa dengan memberikan apa saja, kita akan dipandang sebagai orang yang hebat oleh orang yang melihatnya. Sudahkah kita mengusahakannya?

(Fr. Gerrardi Mandagie)

“Awas, jangan kamu berbuat amal kebajikan di depan orang supaya mereka melihatnya; jika kamu demikian, kamu tidak mendapat upah dari Bapamu yang di surga” (Mat. 6:1).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah kami agar mampu memberi dan mengampuni oleh karena dorongan kasih. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini