“MENGERTI”: Renungan, Selasa 13 Februari 2024

0
817

Hari Biasa (H)

Yak. 1:12-18; Mzm. 94:12-13a, 14-15, 18-19; Mrk. 8:14-21

Orang yang melakukan sesuatu tanpa pengertian akan gampang menyimpang. Sebab pengertian adalah cahaya atas budi. Apabila cahaya itu redup maka terjadi kegelapan. Bertindak tanpa pengertian sama seperti berjalan dalam kegelapan. Hari ini Yesus menegur para murid karena ketidakmengertian mereka. Banyak hal telah dilakukan-Nya namun itu belum cukup membuat mereka mengerti. Mujizat pergandaan roti bukan membuat mereka makin mengerti malah makin jauh dari pengertian. Itulah sebabnya dalam Injil, Yesus berkata: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?” Tampak bahwa pengertian dikehendaki oleh Yesus. Ragi atau hasutan jahat dari orang Farisi dan Herodes dapat ditangkis oleh para murid, sejauh mereka memiliki pengertian yang baik. Jika perbuatan dan perkataan Yesus tidak dipahami, bagaimana mereka dapat melawan pelbagai hasutan jahat itu? Inilah yang menjadi inti teguran dari Yesus.

Seringkali rahmat Tuhan mengalir tak berkesudahan dalam kehidupan kita. Namun rahmat itu tidak kita pahami. Rahmat itu bukannya membuat kita makin kokoh dalam iman, malah kian terpisah dari-Nya karena ketidakmengertian. Kesehatan, rezeki, keberhasilan dalam pekerjaan, kesuksesan dalam studi serta potensi-potensi lain terabaikan karena kita tidak memahami kehendak-Nya. Buktinya, kita masih cenderung terperangkap dalam ragi orang Farisi dan Herodes. Kekuatan jahat terus mengembang dalam diri kita, seperti: kesombongan, amarah, keserakahan, pembunuhan, perang dan persaingan yang tidak sehat. Jenis-jenis kejahatan ini menggambarkan bahwa kita belum sepenuhnya mengerti kehendak Allah.

Teguran Yesus terhadap para murid menjadi teguran bagi kita umat manusia saat ini. Kecintaan terhadap harta, kedudukan dan popularitas menjadi penghalang bagi kita untuk memahami kehendak Allah. Kedegilan hati membuat kita tidak dapat melihat, mendengarkan dan mengalami karya-karya Allah. Sekalipun rahmat terus mengalir tak berkesudahan, ketidakmengertianlah yang membuat kita semakin jauh dari rahmat itu.  Jika kehendak Allah dipahami dengan sungguh-sungguh maka iman kita akan kokoh.  Dengan begitu kita tidak gampang terperangkap dalam ragi-ragi yang menyesatkan.

 

(Fr. Rio Batlayeri)

 “Lalu kata-Nya kepada mereka: “Masihkah kamu belum mengerti?”

(Mrk. 8:21)

Marilah berdoa:

Ya Bapa, buatlah aku agar semakin memahami kehendak-Mu. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini