“BUAH KERENDAHAN HATI”: Renungan, Minggu 11 Februari 2024

0
1527

Hari Minggu Biasa VI (H)

Saudara terkasih, salah satu penyakit yang cukup menonjol dalam Kitab Suci adalah penyakit kusta. Dalam Kitab Suci khususnya dalam Perjanjian Lama, penyakit kusta dianggap sebagai penyakit kutukan. Oleh karena itu orang yang mengalami penyakit kusta pasti akan mengalami penderitaan yang berat. Selain mengalami sakit secara fisik, orang yang memiliki penyakit kusta juga akan mengalami tekanan psikis sebab mereka akan dikucilkan dan disingkirkan karena dianggap najis serta dipandang sebagai orang berdosa.

Dalam bacaan pertama dikatakan, “Barangsiapa najis karena penyakit kusta dan dipisahkan berdasarkan keputusan imam, pakaiannya harus dibiarkan tergerai, kepalanya telanjang, mulutnya ditutup kain, dan ia akan berseru, bahwa dirinya najis dan najis » (Im. 13 :45-46). Dapat dilihat bahwa Kitab Suci sendiri menggambarkan secara jelas betapa najisnya seseorang yang mengalami penyakit kusta dan betapa sengsaranya mereka karena harus dikucilkan dan diusir oleh masyarakat.

Jika dalam Perjanjian Lama orang-orang berusaha menjauhi mereka yang memiliki penyakit kusta bahkan tidak mau menyentuh mereka, tindakan yang ditunjukkan Yesus dalam bacaan Injil hari ini justru sebaliknya. Yesus menyembuhkan orang yang memiliki penyakit kusta, bahkan menyentuhnya. Tindakan Yesus ini sejatinya melukiskan makna dari sebuah ketulusan yang mau menolong agar seseorang terlepas dari penderitaannya. Meskipun banyak orang berusaha menjauhi bahkan membuang mereka, Yesus justru mendekati mereka, menjamah dan bahkan menyembuhkan mereka sehingga si penderita bisa terlepas dari derita yang dialaminya.

Apa makna yang dapat kita ambil dari bacaan-bacaan hari ini? Di zaman sekarang ini, penyakit kusta sudah sangat jarang didengar dan tidak dianggap lagi sebagai penyakit kutukan. Namun yang terjadi di zaman ini justru semakin banyak orang yang diperlakukan sama seperti orang yang terkena penyakit kusta pada zaman Perjanjian Lama. Mereka adalah orang-orang yang sering dipandang rendah oleh masyarakat, entah karena status ekonomi ataupun karena dianggap berdosa.

Maka lewat Injil hari ini Yesus mau mengajak kita semua untuk hidup penuh kasih, tidak saling menghakimi, selalu bersikap rendah hati, dan berusaha untuk saling menghargai satu dengan yang lain. Sebab Yesus sendiri bersabda, “Sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (Mat. 25:45). Ini berarti bahwa menolong orang miskin dan menghormati sesama kita yang dipandang kecil dan hina merupakan cara kita untuk mencintai dan melayani Tuhan.

(Redaksi)

 

“Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan” (Ams. 22:4).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan Yesus Kristus, terima kasih atas cinta yang telah Engkau tunjukkan dan ajarkan kepada kami. Kami mohon bantulah kami untuk mampu mencintai dan menolong orang-orang yang terpinggirkan. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini