“MENJADI DIRI SENDIRI”: Renungan, Sabtu 20 Januari 2024

0
1493

Hari Biasa (H)

 2 Sam. 1:1-4,11-12,19,23-27; Mzm. 80:2-3-,5-7; Mrk. 3:20-21.

Sebagai manusia, semua orang pasti pernah dihadapkan dengan situasi dimana orang lain bertindak sebagai hakim dan mulai mengakimi sesamanya dengan rupa-rupa penilaian. Situasi tersebut biasanya tampak saat seseorang ingin melakukan suatu perbuatan yang baik tetapi perbuatan itu malahan dinilai atau dianggap tidak baik oleh orang lain dan hal tersebut biasanya timbul karena kecemburuan.

Dalam bacaan injil hari ini, penginjil Markus mengisahkan tentang Yesus yang dituduh mengusir setan dengan kuasa Beelzebul atau kuasa jahat oleh para ahli Taurat. Bahkan berita tentang perbuatan Yesus ini pun membuat keluarganya menganggap dirinya sudah tak waras lagi sehingga mereka lalu pergi ke tempat dimana Ia berada untuk mengambil Dia. Sikap yang ditunjukkan oleh para ahli Taurat terhadap Yesus ini, menampakkan dengan jelas bahwa mereka cemburu terhadap Yesus sehingga mereka ingin mencari cela dengan cara menuduhnya. Meskipun demikian, Yesus tidak peduli terhadap ucapan mereka sebab Ia tahu bahwa apa yang dilakukannya itu adalah benar. Lantas, apa pesan yang disampaikan oleh penginjil Markus bagi kita?

Yesus diberi “cap” sebagai orang yang tidak waras karena mengusir setan, padahal apa yang dilakukanNya itu adalah perbuatan yang baik dan benar. Tindakan Yesus ini sekaligus hendak memberikan contoh kepada kita bahwa di dalam kehidupan sehari-hari, hendaknya kita berlaku seperti Yesus yang tetap melaksanakan apa yang menjadi tugas perutusanNya dan apa yang diyakiniNya benar, tanpa harus mempedulikan omongan atau penilaian yang buruk dari orang lain. Sebab pada dasarnya, kita hidup bukan untuk mengikuti standar atau penilaian orang lain tetapi hidup menurut standar kita sendiri. Karena itu dalam melakukan sebuah perbuatan baik, kita tidak perlu ragu ataupun khawatir tentang apa yang akan dikatakan oleh orang lain. Prinsipnya bahwa jika itu adalah perbuatan baik maka lakukanlah.

Setiap kita memiliki versi masing-masing dalam menilai suatu perbuatan. Bila tujuan hidup kita hanya untuk tampil sebagai orang baik dimata orang lain, itu sama saja dengan menipu diri kita sendiri. Ada orang pernah berkata demikian: “Setiap manusia memiliki ciri khasnya masing-masing, karena itu kita tidak akan pernah bisa menjadi orang lain dan begitupula sebaliknya”. Kekhasan itu tampak dalam cara berpikir dan bertindak dan kita tidak perlu mendengarkan atau mempedulikan penilaian yang buruk terhadap kita. Oleh karena itu, belajarlah dari Yesus dan bersikaplah seperti Dia dengan cara berani tampil sebagai orang yang baik menurut versi kita sendiri dan bukan menurut versi orang lain. Mendengarkan pendapat dari orang lain memang perlu, tetapi ada satu hal yang harus diingat bahwa tidak selamanya pendapat dan penilaian orang lain memberikan dampak positif bagi diri kita.

Fr. Yustinus Atbar

“Waktu kaum keluargaNya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi” (Mrk. 3:21).

 

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah kami pribadi yang mampu tampil sebagai diri sendiri tanpa harus membandingkan diri kami dengan penilaian orang lain. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini