Hari Biasa (H)
Yeh. 36:23-28; Mzm. 51:12-13, 14-15, 18-19; Mat. 22:1-14
Ada seorang pemulung yang berusia 60 tahun. Pekerjaannya setiap hari ialah mengais-ngais tong sampah, mencari botol bekas untuk dijual lagi demi sesuap nasi. Pada suatu hari, ketika sedang memungut sampah, ia melihat seorang pemuda jatuh pingsan. Ia langsung membawa pemuda tersebut ke Puskesmas. Setelah diperiksa, dokter berkata bahwa lambungnya bocor dan harus segera dioperasi.
Namun sebelum itu, biaya yang harus ditebus sebesar Rp 1.350.000, sudah termasuk biaya penginapan, biaya pemeriksaan dan obat-obatan. Pemulung itu merasa kesulitan sebab pemuda tadi belum sadarkan diri. Ia bingung. Ia cuma seorang pemulung yang tidak punya uang sebanyak itu.
Setelah berpikir sesaat, ia kembali ke rumah dan membongkar celengannya. Semua hasil tabungan ia bawa ke Puskesmas. Untungnya uang yang ia bawa cukup dan bahkan tersisa Rp 31.500. Dengan sisa uang yang ada, ia sudah cukup senang, setidaknya ia tidak akan kelaparan untuk beberapa hari.
Bacaan-bacaan hari ini mengisahkan bagaimana Allah begitu mengasihi umat-Nya. Belas kasih Allah itu ditampilkan dengan jelas dalam bacaan Injil. Yesus membuat perumpamaan tentang Kerajaan Sorga. Dia mengumpamakannya bagaikan seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Maka raja itu membuat undangan.
Namun orang-orang yang diundangnya tidak mau menghadiri acara tersebut. Raja telah menyediakan segala-galanya demi pesta itu, namun semua orang yang ia undang tak seorangpun datang. Mereka semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Namun perjamuan harus tetap dilangsungkan. Oleh sebab itu, ia menyuruh hamba-hambanya untuk mengumpulkan semua orang yang ditemui di jalan dan membawa mereka ke pesta yang telah disediakan.
Pemulung dalam cerita tadi mengajak kita untuk dapat mengasihi sesama kita. Sesama kita bukan berarti orang yang selalu berada di sekitar atau hidup bersama-sama dengan kita. Tetapi sesama kita ialah orang-orang yang kita jumpai dalam hidup sehari-hari.
Belas kasih itu pula yang ditampilkan dalam bacaan-bacaan hari ini, terutama bacaan Injil. Allah tidak pernah membiarkan manusia jauh dari kerajaan-Nya. Melalui undangan ke pesta yang telah disediakan, Allah berupaya agar manusia dapat turut merasakan apa yang Ia sendiri rasakan.
Namun hal itu tentu berpulang pada diri setiap manusia. Apakah mereka mau menerima undangan Allah atau tidak. Apakah kesibukan pribadi lebih penting daripada undangan Allah?
(Fr. Frederikus Babaubun)
“Pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan ini” (Mat. 22:9)
Marilah berdoa:
Tuhan, ajarlah hamba agar mampu mengasihi sesama hamba. Amin.











