“Keegoisan Duniawi”: Renungan, Rabu 22 Agustus 2018

0
2743

Pw SP Maria, Ratu (P)

Yeh. 34:1-11; Mzm. 23:1-3a, 3b-4,5,6; Mat. 20:1-16a

Keegoisan para gembala menjadi sorotan utama dalam Kitab Yehezkiel pada hari ini. Mereka menggunakan otoritas yang Allah berikan dengan tidak bertanggungjawab. Para gembala hanya mencari keuntungan dari kawanan dombanya untuk kenikmatan jasmaniah.

Ketika domba-domba itu membutuhkan pertolongan, mereka pun ditinggalkan. “Kamu menikmati susunya … tetapi domba-domba itu tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan… yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak dengan kekerasan dan kekejaman” (Yeh. 34:3-4).

Melihat realitas yang demikian kejam, Allah tidak tinggal diam. Allah berfirman, “Aku sendiri akan menjadi lawan gembala-gembala itu dan aku akan menuntut domba-domba-Ku dari mereka dan akan memberhentikan mereka mengembalakan domba-domba-Ku” (Yeh. 34:10a).

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menjelaskan Kerajaan Surga kepada para murid. Kerajaan Surga itu ibarat tuan rumah yang pagi-pagi benar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Para pekerja tersebut diberi upah sesuai dengan kesepakatan.  Allah ingin menyelamatkan mereka dari kemalasan dan kemiskinan. Hal ini mau menunjukkan bahwa Allah adalah murah hati dan mahabaik.

Namun yang terjadi adalah para pekerja yang memulai pekerjaan lebih awal memprotes karena upah yang mereka terima sama dengan upah para pekerja yang datang kemudian, yakni masing-masing satu dinar. Jelas bahwa para pekerja yang menuntut lebih ini melanggar kesepakatan awal.

Mereka tidak memikirkan kehidupan orang lain melainkan hanya memikirkan diri mereka sendiri. Mereka ingin Surga hanya milik mereka padahal yang menentukan siapa yang pantas hidup di dalam Surga adalah Allah sendiri.

Keegoisan sangat tampak dalam pribadi para gembala dan para pekerja kebun anggur yang bekerja lebih awal. Keegoisan membuat orang tidak peduli dengan tanggung jawab yang diberikan. Lebih banyak menuntut dibanding menjalankan tugasnya, tidak peduli dengan kehidupan orang lain dan lebih parahnya lagi orang lain menjadi korbannya.

Hari ini Gereja universal merayakan Pesta Santa Maria Ratu. Santa Maria diakui Gereja sebagai Ratu karena Yesus adalah Raja dan Ia telah memenangkan pertandingan di dunia ini.

Santa Maria adalah sosok yang rendah hati, peduli, menyerahkan diri seutuhnya kepada kehendak Allah dan menjalankan tugas yang Allah berikan dengan rasa tanggung jawab. Sebagai orang beriman mari kita belajar dari sikap Santa Maria agar kita layak di hadapan Allah.

(Fr. Aloisius Wazi)

“Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat. 20:15)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah aku untuk menjadi abdi-Mu yang murah hati. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini