Hari biasa (H)
1Mak. 1:10-15,41-43,54-57,62-64; Mzm. 119: 53, 61, 134, 150, 155,158; Luk. 18:35-43.
“Apa itu?” itulah seruan yang didengungkan orang buta di daerah Yerikho, ketika mendengar orang banyak lewat. Orang pun menjawabnya, “Yesus orang Nasaret lewat”. Pendengaran merupakan hal penting bagi seorang yang buta. Pengenalan dan pemahaman serta pengetahuannya tergantung pada pendengarannya. Dengan ini, maka pendengaran yang baik dan pendengaran yang penuh pengharapan serta pendengaran dengan iman membawa orang pada keselamatan. Lantas bagaimana dengan pendengaran kita? apakah kita mau mendengarkan berita baik ataukah kita hanya mendengarkan cemooh dan makian orang, apalagi cerita buruk tentang orang lain?
Bacaan Injil kali ini memberikan inspirasi bagi kita bagaimana pendengaran tersebut membawa kita pada keselamatan. Ketika orang buta mendengar kata “Yesus orang Nasaret Lewat”, pendengaran ini membawa orang buta ini pada pengenalan, pengharapan dan iman yang teguh. Mendengar kata Yesus, orang buta ini mengetahui bahwa inilah Yesus, sosok Mesias yang dinantikan dari keturunan Daud.
Selanjutnya pengenalan membawa dia pada pengharapan. “Kasihanilah aku!” adalah ungkapan yang menunjukkan pengharapan dari orang buta ini akan belas kasihan dan kesembuhan. Tetapi lebih dari itu, “Tuhan, Supaya aku dapat melihat!” menunjukkan bagaimana orang buta itu menginginkan supaya dia dapat melihat Tuhan dan karya Tuhan yang terjadi dalam dunia ini.
Ungkapan-ungkapan dari dialog ini menunjukkan bagaimana iman dari orang buta sangatlah dalam. Iman tersebut pun mendapat tanggapan yang baik. Yesus mengetahui kedalaman iman orang akan diriNya. Karena itu iman yang dalam itu mendapatkan buah yang besar pula terutama kesembuhan dan keselamatan.
Dari kisah ini kita dapat belajar bahwa iman dari pendengaran itu sangatlah penting. Pendengaran yang baik dan benar membawa kita pada pengenalan, pengharapan serta iman yang teguh dalam kehidupan kita. Lewat pendengaran,kita mampu untuk mengenal Tuhan Yesus dan mampu memperdalam pengharapan kita akan keselamatan dan dari sanalah muncul iman yang teguh. Setelah mendengar dan beriman, kita pun diajak menjadi pewarta kemuliaan Allah yang selanjutnya menjadi pewarta bagi sesama. Agar sama seperti seluruh rakyat yang melihat penyembuhan yang terjadi pada orang buta tersebut, bersama-sama memuji-muji Allah.
Marilah kita hendaknya memiliki pendengaran yang baik dan benar sehingga mampu menerima kabar baik, seperti dalam perayaan Ekaristi dan perayaan ibadah sabda yang juga membantu tumbuhnya iman kita dan menambah pengharapan serta keselamatan kepada pribadi dan sesama kita.
(Fr. Panji Dianomo)
“Lalu ia berseru: “Yesus, Anak Daud, Kasihanilah aku!” (Luk. 18:38)
Marilah berdoa:
Tuhan, semoga kami bisa menjadi pendengar dan pewarta sabdaMu. Amin.











