“YANG TERUTAMA”: Renungan, Rabu 8 November 2023

0
1474

Hari Biasa (H)

Rm. 13: 8-10; Mzm. 112:1-2.4-5.9; Luk. 14:25-33

Manusia sering digambarkan sebagai mahluk ekonomis. Karakteristiknya sebagai mahluk ekonomis terungkap dalam berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan ekonomis, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, hingga kekayaan demi keberlangsungan hidupnya.  Meskipun demikian kebutuhan ekonomi saja tidak cukup, manusia rupanya mempunyai hasrat akan pengakuan. Misalnya ia ingin diakui sebagai yang superior. Mulai dari hal sederhana dalam hidup sehari-hari seperti berusaha mempercantik diri, penggunaan filter dalam smartphone hingga ke upaya-upaya politis untuk memperoleh jabatan, kedudukan, maupun kekuasaan.

Obsesi yang berlebihan atas kedua hal tersebut dapat membawa manusia jatuh dalam gaya hidup materialis dan juga melabeli diri sebagai superior. Orang hidup dengan berpatokan pada dorongan-dorongan naluriah dan keinginan-keinginan tubuh. Ketika orang lain merasa dirinya tidak diakui, hal ini bisa menimbulkan sikap ketidakpuasan seperti kemarahan, kebencian, dll. Segala cara mulai dihalalkan, bahkan sampai menggunakan cara yang tidak baik ataupun memanfaatkan orang lain sebagai objek demi memperoleh pengakuan. Manusia yang memiliki karakter seperti ini tentu tidak dapat menjadi murid Kristus. Yesus bersabda, “Yang tidak dapat melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu”.

Rasul Paulus mengungkapkan bahwa untuk menjadi pengikut Kristus, orang harus berdiri di atas kasih sebagai dasar. Kasih menjadi alat kontrol atas obsesi terhadap hal-hal material maupun dorongan batiniah yang ingin diakui sebagai superior. Dengan kasih manusia menyatakan diri sebagai mahluk yang terbuka dan terarah kepada yang lain. Dengan kasih orang lain bisa menaruh kepedulian kepada saya, tetapi kepedulian itu tidak menimbulkan dampak lain yang membuat saya harus menuntut lebih.

Meskipun orang bisa memperoleh kedudukan, jabatan, pengetahuan yang luas, tetapi jika orang tidak mempunyai kasih di dalam dirinya, semuanya tidak berarti apa-apa. Dengan kasih orang tidak menganggap diri sebagai superior dan orang lain tidak dipandang sebagai rendah, sebagai budak. Kasih menggerakkan manusia untuk melihat manusia lain sebagai saudara. Tetapi juga dengan kasih, orang akan tahu bahwa ia tidak hidup untuk dirinya sendiri melainkan hidup untuk mengasihi Allah dan sesamanya. Ia hidup untuk memulihkan Allah melalui tindakan kasih kepada sesama. Ia hidup dari belas kasih Allah dan wajib membagikannya kepada sesama. Dengan demikian, ia akan sadar secara alamiah bahwa ia adalah perpanjangan tangan Allah bagi sesama untuk mewartakan kasih dan kebaikkan bagi sesama.

(Redaksi Lentera Jiwa)

 “Yang tidak dapat melepaskandiri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu” (Luk. 14:33).

Marilah berdoa:

Ya Allah, bantulah aku agar mampu mengasihi sesamaku. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini