Hari biasa (H)
Rm 12:5-16a; Mzm 131: 1.2.3; Luk 14:15-24
Sejak kecil, kita telah diajarkan untuk selalu melakukan perbuatan-perbuatan benar, yaitu perbuatan menghargai dan mengasihi orang lain, saling berbagi sebagai saudara, dan terbuka terhadap sesama manusia sebagai makhluk yang mulia. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, melukiskan karunia iman yang diberikan Tuhan kepada setiap orang. Jika kita memiliki karunia untuk melayani, maka hendaklah kita melayani, jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar, dan jika kita memiliki karunia untuk menasehati, maka hendaklah kita menasehati. Sebagai orang beriman hendaklah kita mempergunakan secara baik rahmat, anugerah, dan kasih yang diberikan Allah kepada kita dengan tidak berpura-pura agar karunia iman dan kasih itu tidak sia-sia melainkan berguna bagi banyak orang.
Penginjil Lukas telah menggambarkan peristiwa kasih yang dilakukan oleh seorang tuan pesta kepada banyak orang. Hal itu nampak jelas dalam undangan bagi mereka yang dianggap rendah dan tidak terhormat. “Pergilah ke segala lorong dan jalan kota, dan bawalah mereka yang miskin, buta, dan lumpuh untuk bersama-sama mengikuti pesta”. Secara manusiawi, tuan pesta tersebut menunjukkan sikap kasih yang tercermin dalam perintahnya untuk mengundang setiap orang tanpa memandang sifat ataupun kejelekannya.
Tindakan yang dibuat oleh tuan pesta menjadi buah yang bisa kita petik hari ini. Ia tidak membeda-bedakan dan tidak memandang status dan latarbelakang seseorang. Semuanya dianggap satu sebagai manusia yang tumbuh dan berkembang di atas bumi yang sama. Sama halnya dengan Kerajaan Allah yang terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin masuk kedalam-Nya.
Pertanyaan refleksi bagi kita: Apakah kita sudah berbuat baik kepada orang lain tanpa memandang status dan fisik seseorang? Dalam pesan yang disampaikannya, paus Fransiskus meminta kepada semua umat beriman untuk melihat orang lain sebagai saudara yang perlu untuk dihargai dan dicintai demi kebahagiaan bersama. Kita sebagai orang beriman ditantang untuk mewujudnyatakan ajaran-ajaran kasih yang telah diajarkan kepada kita. Sebagaimana yang ditampilkan oleh tuan pesta dalam undangannya bagi mereka yang miskin dan sederhana.
Lewat bacaan-bacaan hari ini, kita diajak untuk menunaikan tugas kasih yang diberikan Tuhan kepada kita lewat bakat dan kemampuan yang kita miliki. Membantu dan menolong, menghargai dan mencintai merupakan bentuk konkret tindakan kasih yang perlu kita lakukan sehingga setiap kita boleh mengalami dan merasakan kedamaian.
(Fr. Ubaldus Melsasail)
“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa”.
Marilah berdoa:
Bapa yang maha baik, peliaralah iman kami agar tetap subur. Demi Kristus Tuhan Kami. Amin











