Hari Minggu Biasa XXV (H).
Yes. 55: 6-9; Mzm. 145: 2-3, 8-9, 17-18; Flp. 1: 20c-24, 27a; Mat. 20: 1-16.
Keadilan berhubungan dengan berbagai aspek kehidupan di dunia ini. Semua orang, tanpa terkecuali menginginkan dan mendambakan keadilan dalam hidupnya. Keadilan berkaitan dengan kejujuran, kebenaran dan kemurahan hati. Maka ketika orang tidak adil sama halnya dengan orang-orang yang tidak jujur, tidak benar dan tidak murah hati. Iri hatikah engkau, karena Aku murah hati? Pernyataan Yesus ini merupakan tamparan untuk kita semua agar kita sadar akan kebaikan, kemurahan, kasih dan keadilan Tuhan yang luar biasa dan istimewa kepada semua orang. Iri hati terjadi karena praktik ketidakadilan dari orang-orang tertentu dan bisa saja diri kita sendiri, para pemimpin kita, keluarga kita dan lain-lain.
Dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini, terlebih khusus dalam bacaan Injil, Matius mau mengajak kita untuk melihat kemurahan dan keadilan Tuhan yang sesungguhnya dan tiada batasnya. Ketika para pekerja telah selesai bekerja, mereka menerima upah masing-masing. Pembagian upah pun dilaksanakan dengan baik tetapi muncullah masalah yakni ketidakadilan menurut perspektif manusia. Karena para pekerja yang datang lebih awal bersungut-sungut karena upah yang mereka terima sama dengan para pekerja yang datang terakhir. Pembagian upah inilah yang menjadi pusat perhatian dari isi injil hari ini. Para pekerja tidak terima dengan keputusan pemilik kebun anggur, mereka pun iri hati kepada para pekerja yang datang lebih awal, namun tanpa sadar mereka lupa akan kesepakatan mereka di awal yakni mereka akan diupah sedinar sehari. Maka di sini, kita harus ingat bahwa ada kesepakatan yang kita buat dengan pemilik yang mempekerjakan kita.
Pemilik kebun anggur membuat dan mengambil keputusan yang tepat dan benar. Ia memberikan upah yang sama kepada semua pekerja yang bekerja di kebun anggurnya, baik yang datang lebih awal dan yang datang terakhir. Di sini, dapat kita lihat dengan jelas bahwa pemilik kebun anggur telah mempertimbangkan semua hal sehingga ia memutuskan semuanya dengan adil, jujur dan bertanggung jawab. Semuanya ini menggambarkan Allah sendiri yang adalah murah hati, penuh keadilan untuk semua orang. Orang yang datang lebih awal menggambarkan umat Allah yang sudah lama menjadi dan mengambil bagian di dalam Yesus dan orang yang datang terakhir menggambarkan mereka yang baru saja mengenal dan mengambil bagian di dalam Yesus. Namun, Allah tidak membeda-bedakan, malahan Allah dengan adil dan murah hati memberikan yang terbaik kepada kita semua karena kita dengan taat, setia, sabar selalu melakukan hal-hal yang baik dan benar dengan setia sesuai dengan firman-Nya, sehingga kita mendapatkan upah yang sama dari Allah yakni keselamatan. Maka dari itu, marilah kita belajar untuk memperjuangkan keadilan dalam hidup kita dengan selalu rendah hati dan murah hati kepada semua orang sebagaimana Allah telah menunjukkannya kepada kita.
Redaksi
“…Iri hatikah engkau, karena Aku murah hati?” (Mat. 20: 15)
Marilah berdoa:
Ya Allah, mampukanlah kami untuk menjadi pribadi-pribadi yang adil dan murah hati. Amin.











