PW St. Padre Pio dari Pietrelcina, Imam (P).
1Tim. 6:13-16; Mzm. 100:2, 3, 4, 5; Luk. 8:4-15.
Seperti benih yang membutuhkan perawatan, ketaatan memerlukan ketekunan dan kesabaran agar kebaikan dapat bersemi. Ketika benih ketaatan ditanam, ia akan berakar kuat dalam nilai-nilai pengabdian dan loyalitas. Seiring waktu, ketaatan akan terus berkembang menjadi pohon kesetiaan. Pohon inilah yang memberikan perlindungan dan kehangatan bagi mereka yang berada di sekitarnya. Bacaan pertama hari ini mengisahkan tentang Paulus yang memberikan peringatan kepada Timotius. Dengan berkata-kata seperti ini, Paulus berharap supaya Timotius pada waktu itu lebih mengutamakan diri, pada perkara yang menyelamatkan yaitu mengetahui, menerima, taat dan setia melaksanakan perintah Allah.
Perihal ketaatan juga tersirat melalui perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus dalam Injil. Ia menggambarkan empat tipe manusia dengan mengumpamakannya seperti tempat di mana benih itu ditaburkan. Pertama, di pinggir jalan ialah mereka yang gampang terbuai dengan bujukan iblis. Kedua, tanah yang berbatu-batu menunjuk pada orang yang menerima sabda dengan gembira namun tidak diresapi secara mendalam. Ketiga, semak duri adalah orang-orang yang sudah menerima sabda namun segera terhimpit oleh kekayaan duniawi dan tidak peduli akan rintihan sesamanya. Keempat, tanah yang baik menunjuk pada mereka yang menerima sabda, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan. Tipe manusia yang keempat selaras dengan pribadi Santo Padre Pio yang diperingati hari ini. Dalam hidupnya ia terkenal sebagai sosok yang memperoleh kurnia stigmata, penglihatan, bisa membaca pikiran orang lain, kurnia penyembuhan bahkan ia pernah membangkitkan seorang gadis yang sudah dinyatakan meninggal. Meskipun memiliki kurnia itu ia tetap sederhana dan terus memasrahkan dirinya pada Tuhan melalui doa pribadi serta Ekaristi. Itulah sebabnya ia pernah berkata “aku hanya ingin menjadi biarawan miskin yang berdoa.” Di samping itu, ia juga turut terlibat dalam membantu penderitaan sesamanya dengan membangun rumah sakit Casa Sollieva della Safferenza.
Sebagai umat beriman pantaslah kita mengupayakan pertumbuhan iman dalam ketaatan. Lewat ketaatan kita akan sampai pada kebenaran sejati yaitu Allah sendiri. Sekali pun dunia menantang iman yang sudah kita terima, kita tak akan goyah; meskipun dalam kesulitan kita tetap memiliki pengharapan, hati yang tulus dan terus mengeluarkan buah kebaikan dalam kelimpahan. Maukah kita menjadi pribadi yang taat?
(Fr. Herman Yoseph Batlayeri)
“Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah dalam hati yang baik dan tulus ikhlas dan menghasilkan buah dalam ketekunan” (Luk. 8:5)
Marilah Berdoa:
Ya Bapa, jadikanlah kami taat kepadaMu. Amin.











