“SIAPA TAKUT!”: Renungan, Minggu 25 Juni 2023

0
1364

Hari Minggu Biasa XII (H).

Yer 20:10-23; Mzm. 69:8-10,14,17,33-35; Rm. 5:12-15; Mat.10:26-33.

Jika direfleksikan lebih jauh, panggilan menjadi orang kristiani bukanlah sebuah panggilan yang mudah untuk dijalani. Sebagai murid-murid Kristus di zaman ini, kita memiliki panggilan untuk terus hidup sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Kita semua yang telah dibaptis diberikan tugas dan tanggung jawab untuk melanjutkan karya kebenaran yang dilakukan oleh Yesus. Hal ini makin dirasakan setiap kali memasuki tahun politik. Sebab sebagaimana kita ketahui bahwa pada tahun depan kita akan merayakan pesta demokrasi. Ingar-bingar tentang pesta demokrasi yang dirayakan setiap lima tahun sekali itu sudah mulai dirasakan pada beberapa waktu terakhir ini. Apabila kita tidak bijak dan memiliki keberanian untuk memilah berita-berita yang disajikan bertema pesta demokrasi, maka kita akan termakan oleh berita yang palsu (hoaks).

Kita memiliki tugas untuk menjadi cahaya kebenaran bagi orang lain. Semua tugas dan tanggung jawab itu dapat kita lakukan apabila kita menaruh iman, harapan, dan kasih kita kepada Yesus Kristus yang telah membebaskan kita dari dosa-dosa. Dalam bacaan Injil, Yesus memberikan peneguhan kepada para murid-Nya “Janganlah kamu takut kepada mereka, karena tidak  sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh namun tidak berkuasa membunuh jiwa. Akan tetapi takutlah kepada Dia yang dapat membinasakan jiwa dan tubuh dalam neraka”. Pernyataan Yesus ini mengajak setiap murid-Nya bahwa untuk menjadi saksi-saksi kebenaran kita harus memiliki keberanian. Keberanian untuk mewartakan tercermin lewat sikap kita untuk tidak memberi celah terhadap berita palsu yang muncul di Whatsapp, linimasa Facebook, ataupun lewat platform-platform lainnya. Keberanian ini akan menuntun kita untuk mengakui Yesus sebagai Juruselamat. Sebaliknya ketakutan akan menjadikan kita sebagai orang-orang yang pengecut untuk mengakui Yesus sebagai sumber kebenaran dalam situasi apapun.

Bacaan hari ini menantang kita, apakah kita bisa menjadi saksi-saksi kebenaran yang berani sebagaimana yang diharapkan oleh Tuhan Yesus ataukah menjadi saksi-saksi yang pengecut. Dalam perjalanan hidup setiap hari, terlebih khusus dalam menyongsong pesta demokrasi nanti, kita diajak untuk bisa menjadi pewarta kebenaran yang berani sehingga iman kitab isa memancarkan keberanian surgawi seperti yang diharapkan Yesus sendiri.

(Fr.Bosco Pontoh)

“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 10:32).

Marilah Berdoa:

Tuhan Yesus Kristus, teguhkanlah aku menjadi saksiMu yang memiliki keberanian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini