“JANGAN BERTELE-TELE”. Renungan: Kamis 22 Juni 2023

0
933

Hari Biasa (H).

2Kor. 11:1-11; Mzm. 111:1-2,3-4,7-8; Mat. 6:7-15.

Doa merupakan kegiatan yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan orang beriman. Ada sebagian orang yang memandang doa sebagai suatu kewajiban dalam hidupnya. Doa menjadi suatu kekuatan atau spirit bagi kehidupan orang beriman. Dalam praktiknya, kita mengenal ada banyak jenis doa. Ada juga doa yang panjang dan ada pula yang pendek. Dalam doa, kita sebenarnya sementara berbicara dengan Tuhan dan menaruh segala hidup kita pada Tuhan. Tetapi, bagaimanakah seharusnya kita berdoa?

Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang mengajar orang banyak cara berdoa. “Bila kalian berdoa janganlah bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah…”. Yesus mengajarkan agar orang berdoa dengan sungguh-sungguh dan tidak bertele-tele, sebab Allah sudah lebih dahulu tahu apa yang kita butuhkan. Pernyataan Yesus tersebut sebenarnya menyinggung para ahli-ahli Taurat yang suka berdoa panjang-panjang di depan banyak orang, supaya orang menyangka bahwa doanya pasti dikabulkan Allah. Jika kita berdoa dengan panjang lebar dan suka dipuji orang karena doa kita yang panjang maka kita kurang lebih sama dengan ahli-ahli Taurat dan tentunya hal tersebut dibenci oleh Yesus. Yesus memperingatkan kita agar tidak jatuh dalam kebiasaan berdoa yang terkesan munafik.

Yesus mengajarkan doa demikian: “Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah namaMu. Datanglah kerajaanMu. Jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di surga. Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Dan janganlah membawa ke dalam pencobaan. Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin”. Doa yang diajarkan Yesus tersebut yang sekarang kita kenal dengan doa Bapa Kami. Dari doa tersebut terdapat unsur-unsur yang harus kita lakukan. Jika kita berdoa maka pernyataan pertama yang diucapkan adalah pujian kepada Allah. Kedua adalah berdoa untuk meminta rahmat dan berkat dalam kehidupan. Unsur terakhir adalah meminta pengampunan bagi diri sendiri dan bagi sesama.

Berdoa menjadi ciri khas pengikut Kristus. Yesus tidak menghendaki kita untuk berdoa seperti orang munafik. Yesus menginginkan agar kita tulus berdoa dan penuh iman kepada Allah. Doa adalah tindakan kita memuji Allah sang pemilik kehidupan. Doa menjadi sarana bagi aliran rahmat yang berasal dari Allah. Kita bisa belajar dan meneladani Yesus dalam berdoa dan doa Bapa Kami menjadi contoh bagi kita untuk berdoa. Berdoa untuk memuji dan meluhurkan Tuhan, serta memohon rahmat bagi kehidupan ini.

                                                          (Fr. Eduard Rizky Mayokan)

“Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah”(Mat 6:7)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga kami menjadi pribadi-pribadi pendoa demi keluhuran namaMu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini