“HIDUP BERSAMA ALLAH”: Renungan, Rabu 7 Juni 2023

0
1579

Hari Biasa Pekan Ke IX (H).

Tb. 3:1-11a, 13,16-17; Mzm. 25:2-4a,4b-5ab,6-7bc,8-9; Mrk. 12:18-27.

Setiap orang menginginkan untuk hidup bahagia dan sejahtera, baik di dunia ini maupun setelah kehidupan di dunia ini. Berbagai hal dilakukan agar dapat mencapai tujuan tersebut. Dalam konteks agama Katolik, kita mengenal dua model hidup yaitu, hidup berkeluarga pada umumnya, dan hidup selibat pada khususnya. Semua kegiatan selama hidup diarahkan untuk kebahagiaan dan kesejahteraan di akhir nanti, yaitu kehidupan bersama Allah di Surga.

Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk berefleksi sejenak dan merenungkan kehidupan kita yang nantinya akan berpuncak pada kehidupan kekal bersama Allah di surga. Kitab Tobit mengisahkan tentang Allah yang Mahakuasa. Dialah Allah sang pemilik kehidupan. Segala kekuasaan akan takluk di hadapan Allah. Yang diperlukan manusia adalah tunduk pada Tuhan, bermohon dan bersujud agar Tuhan menyertai dan membimbing kita. Kehidupan yang baik dan benar di dunia ini akan menjadi pusaka rohani bagi kita untuk kehidupan bersama Allah. Kisah Tobit dan Sara yang disembuhkan Tuhan dari kuasa jahat, mengajarkan kita bahwa Allah senantiasa hadir bersama kita.

Injil Markus pun mengisahkan tentang kehidupan yang kekal abadi bersama Allah. Orang Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan pun mencobai Yesus dengan memakai perumpamaan perkawinan dari tujuh lelaki terhadap seorang wanita. Mereka pun menginginkan jawaban yang lebih dari sekedar kebangkitan yaitu kehidupan setelah itu. Tetapi, Yesus pun menjawab mereka dan membungkam mereka. Kehidupan setelah di dunia ini bukan soal kawin atau dikawinkan, tetapi hidup seperti malaikat di surga. Hidup bersama Allah, dalam kemuliaan dan keabadian. Karena Allah itu adalah Allah orang hidup.

Manusia sering kali salah kaprah dengan hidup. Begitupun dengan kuasa Allah. Sering kali orang bertanya tentang kuasa Allah: apakah Allah itu mahakuasa? Rasa tidak puas menghantarkan kita pada sikap tidak percaya. Seperti bacaan hari ini tentang kisah Tobit, Sara dan orang Saduki. Barangkali mereka belum memahami kuasa Allah yang tertulis dalam Kitab Suci, sehingga mereka ragu-ragu dan putus asa. Dengarkanlah amanat agung dari Yesus yaitu memahami dengan benar sabda Allah dan menerapkannya dalam setiap langkah kehidupan kita. Kita pun akan hidup menurut sabda Allah, yang membawa kita pada kesempurnaan dan persatuan dengan Allah. Kehidupan kita di dunia ini hendaklah diarahkan pada kehidupan di akhirat nanti. Seperti para malaikat yang hidup dan melayani Allah, demikianlah kita hidup untuk kemuliaan Allah saja. Mengarahkan diri sepenuhnya pada kemuliaan dan persatuan bersama Allah. Hingga akhirnya kita akan hidup bersama Allah di surga. Sebab Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.

(Fr. Christoforus Lontoh)

“Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup” (Mrk. 12:27)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bimbinglah kami untuk hidup menurut sabdaMu sehingga kami boleh hidup kekal bersamaMu dalam keabadian. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini