Hari Biasa (H).
Tb. 2:10-23; Mzm. 112:1-2,7bc-8,9; Mrk. 12:13-17.
Hari ini kita telah mendengarkan kisah tentang prihal membayar pajak kepada Kaisar. Pertanyaan yang diajukan oleh kaum Farisi dan Herodian memang agak janggal, sebab orang Farisi secara kokoh menentang semua bentuk kepemimpinan asing (berkeberatan membayar pajak Romawi), sedangkan orang Herodian merupakan pendukung pemerintahan keluarga Herodes (senang melakukan kebijakan kaisar). Dengan itu, mereka berusaha untuk menjerat Yesus, namun Yesus mengetahui maksud hati mereka. Mereka berpikir, bahwa apabila Dia menjawab dengan membenarkan, maka orang-orang Yahudi yang membenci pajak tersebut akan bangkit dan menolak Dia beserta ajaran-Nya; tetapi apabila Dia menjawab secara negatif, Dia dapat dituduh menentang pemerintah Roma. Dengan pertimbangan yang bijaksana, Yesus berkata kepada mereka bahwa selain memberikan apa yang menjadi kewajiban kepada kaisar, mereka juga harus memenuhi kewajiban mereka kepada Allah. Jawaban tersebut secara sempurna membuyarkan jebakan yang dipersiapkan, sehingga mereka menjadi sangat heran terhadapNya.
Dengan memakai uang yang bergambar Kaisar, Yesus menunjukkan bahwa Pemerintah Roma juga diakui, sehingga dengan sendirinya, pertanyaan mereka sudah terjawab. Sebab, dalam tradisi bangsa Yahudi, ketika ada orang yang memakai uang bergambar tokoh pemerintahan tertentu, maka ia juga harus mengakui orang itu sebagai rajanya. Karena itu, jika mereka memakai mata uang Kaisar, mereka juga harus membayar pajak kepada Kaisar. Yesus pun mengajarkan hal serupa bahwa, selain memberikan suatu kewajiban terhadap kaisar, kita juga harus memberikan kewajiban kita kepada Allah (ay. 17). Ini menunjukkan bahwa tiap-tiap orang mempunyai kewajiban yang sama terhadap negara dan terhadap Allah. Kewajiban terhadap negara tidak bertentangan dengan pendirian orang Kristen, sebab kekuasaan suatu pemerintahan adalah dari Allah dan demi kesejahteraan manusia (Rm. 13:1).
Apa yang dapat kita petik dari sabda Tuhan hari ini? Sebagai umat beriman, kita harus menjadi warga negara yang baik, antara lain dengan membayar pajak pemerintah dan menaati segala regulasi/kebijakan yang dikeluarkannya. Kepatuhan ini akan mendatangkan berkat yang berlimpah apalagi dilakukan berdampingan dengan apa yang menjadi ketetapan Allah bagi kita. Misalnya, melawan ego untuk berbuat dosa dan senantiasa menyatakan perbuatan kasih terhadap sesama. Dengan demikian, kita pun turut melaksanakan pesan Injil hari ini dan menjadi warga masyarakat Allah di dunia dan kelak. Sebab, barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya” (Rm. 13:2).
(Fr. Jessel Bastian Supit)
“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Markus 12 : 17)
Doa:
Ya Tuhan, buatlah aku untuk senantiasa melaksanakan apa yang menjadi kewajibanku terhadap Engkau dan sesamaku di dunia. Amin.











