“KERAHIMAN TUHAN”: Renungan, Minggu 16 April 2023

0
1793

Hari Minggu Paskah II (P).

Kis. 2:42-47; Mzm. 118:2-4,13-15,22-24; 1Ptr. 1:3-9; Yoh. 20:19-31.

Pesta Kerahiman Ilahi menjadi satu perayaan yang istimewa bagi Gereja universal. Perayaan ini menjadi istimewa karena pewahyuan pribadi yang diterima langsung oleh Sta. Faustina dari Tuhan Yesus. Gereja memandang peristiwa ini sebagai bukti nyata kerahiman atau belas kasih Allah yang tiada batasnya kepada manusia. Oleh karena itu, pada tahun 2000 Bapa Suci Yohanes Paulus II menetapkan Hari Minggu setelah Minggu Paskah sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. Sejak saat itu Gereja universal secara resmi merayakan Pesta Kerahiman Ilahi.

Perayaan ini mau menegaskan dan menyadarkan manusia bahwa Allah adalah Maharahim. Kerahiman-Nya tidak ada batasnya. Sederhananya, Allah akan selalu ada dan menunggu manusia untuk datang kepada-Nya. Bukti nyata bahwa Allah selalu ada dan setia menunggu adalah peristiwa penampakan-Nya kepada para murid di mana mereka sedang dilanda kegelisahan, ketakutan, dan putus harapan. Mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Dalam situasi sulit yang dialami para murid, tiba-tiba Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu”. Penampakan-Nya memberi harapan baru kepada para murid. Mereka menjadi percaya bahwa Yesus akan selalu ada untuk mereka dan tidak akan meninggalkan mereka berjalan sendirian. Mereka bersukacita. Namun sayangnya, dalam sukacita itu ada satu murid yang tidak bersama-sama dengan mereka. Dialah Thomas yang disebut Didimus. Hal yang menarik dari peristiwa ini adalah “Tuhan menunggu”. Thomas yang awalnya tidak percaya akan perkataan dari para murid kemudian menjadi percaya karena sekali lagi Tuhan menampakkan diri kepada mereka. Di situlah Thomas menjadi percaya. Yesus berkata, “karena telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Dua hal yang kiranya menjadi pesan Injil kepada kita untuk diingat selalu yaitu, pertama Allah akan selalu ada untuk kita di dalam keadaan apapun dan situasi apapun yang kita alami. Demikian ungkapan rasul Paulus, kita telah dilahirkan kembali oleh kebangkitan Kristus. Kebangkitan-Nya membuka pintu keselamatan bagi kita. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun kamu harus berdukacita oleh berbagai pencobaan di dalam dunia fana. Kedua, Allah akan selalu menunggu kita sampai tiba saatnya bersama-sama dengan Dia dalam sukacita abadi. Cerita Thomas dalam Injil sungguh inspiratif. Pesannya jelas; Allah setia menunggu. Jadi, bertekunlah dalam pengharapan dan setia pada janji baptis kita sampai tiba saatnya kita dipersatukan oleh Allah dalam kemuliaan-Nya. Seperti jemaat perdana yang setia bertekun. Allah yang Maharahim memberkati kita.

(Fr. Chrisanctus P. D. Sadrack)

“Karena telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”(Yoh. 20:29)

Marilah berdoa:

Allah yang Maharahim, Bimbinglah kami untuk selalu setia hanya kepada-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini