“Menjadi Rendah Hati”: Renungan, Senin 2 Januari 2023

0
1163

Pw S. Basilius Agung dan Gregorius dr Nazianze, UskPujG (P).

Yoh, 2:22-28; Mzm, 98:1,2-3ab, 3cd-4; Yoh. 1:19-28.

Sebagai orang Kristen, tentunya kita telah menerima Sakramen Baptis. Melalui sakramen itu kita diangkat menjadi anak-anak Allah dan dosa warisan kita dihapus. Karena rahmat baptisan itu datang dari Allah sendiri. Yohanes berkata: “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Karena itu, keyakinan atau iman akan Dia yang memberikan rahmat atas baptisan itu harus kita pegang selalu.

Hari ini Gereja universal memperingati St. Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze. Ditunjang oleh kemampuan intelektual, bakat rohani dan wawasan spiritual yang dalam Basilius dan Gregorius berjuang bersama menentang berbagai ajaran yang menyesatkan Gereja. Menerima Yesus sebagai Anak Allah yang menjadi sama dengan manusia kecuali dalam hal dosa, adalah salah satu pokok iman kita. Dalam dan melalui Dia kita diangkat menjadi anak-anak Allah. Demikianlah iman akan kehadiran-Nya meyakinkan kita bahwa Allah sangat dekat dengan kita dan masuk dalam sejarah hidup kita. Sabda telah menjadi manusia dan tinggal diantara kita.

Yohanes dalam Injilnya mengisahkan tentang kesaksian akan dirinya sendiri. Baptisan Yohanes adalah baptisan simbolik, yakni pertobatan. Simbolik untuk apa yang terjadi secara spiritual. Apa yang terjadi secara tidak kelihatan dinyatakan oleh apa yang kelihatan. Tetapi Yohanes tidak mengklaim bahwa dia memiliki otoritas membaptis sama seperti Tuhan Yesus membaptis. Itulah sebabnya dia mengatakan bahwa perbedaan antara dia dan Sang Mesias terlalu jauh sehingga membuka tali kasut-Nyapun dia tidak layak (ay. 27). Dia membaptis, tetapi baptisan Sang Mesias jauh lebih mulia sehingga baptisan Yohanes hanya dapat disamakan dengan ‘telapak kaki’ Sang Mesias.

Betapa rendah hatinya sang pembuka jalan ini. Dia menolak disamakan dengan Yesus Kristus, Sang Mesias, dengan cara apa pun. Dia tidak ingin dianggap sebagai Mesias; dia tidak ingin dianggap melakukan pekerjaan yang sama dengan yang dikerjakan oleh Sang Mesias; dia tidak ingin mulia. Dia hanya ingin mulia bagi Kristus dan tidak ingin mengambil sedikit pun kemuliaan itu bagi dirinya sendiri. Yohanes berusaha merendahkan diri demi meninggikan Kristus, dan Kristus meninggikan dia karenanya. Inilah pengajaran agung dari iman Kristen. “Barang siapa meninggikan diri, dia akan direndahkan. Barang siapa merendahkan diri, dia akan ditinggikan”.

Dengan demikian, dalam semangat Natal dan Tahun Baru, warta hari ini hendak mengajak kita untuk mengusahakan hidup yang sesuai dengan martabat anak-anak Allah, yaitu hidup dalam kasih, sukacita, dan berbelarasa dengan mereka yang lemah, tersingkir, kehilangan tempat tinggal, penganiayaan, dll. Sebab, menjadi rendah hati untuk sesama kita sangat-sangat bernilai di hadapan Allah.

(Fr. Jessel Bastian Supit)

 

“Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” (Yoh. 1:26-27).

 

Doa:

Ya Bapa, jadikanlah hati kami seperti hati Yesus yang lembut dan rendah hati. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini