Hari Minggu Biasa XXV (H)
Am. 8:4-7; Mzm. 113:1-2,4-6,7-8; 1Tim. 2:1-8; Luk. 16:1-13 (panjang) atau Luk. 16:10-13 (singkat).
Pada zaman ini, komunikasi memiliki perubahan yang sangat signifikan. Hal ini terjadi karena perkembangan dalam media komunikasi seperti handphone dan sejenisnya. Hal ini mempengaruhi tingkah laku manusia zaman ini. Dampak yang positif ialah orang dipermudah untuk mendapatkan informasi. Akan tetapi dampak yang negatif ialah terjadinya penyalahgunaan media komunikasi. Orang memanfaatkan media tersebut untuk mengejar keuntungan yang tidak jujur. Misalkan penipuan dan menyebarkan berita hoax. Hal itu dilakukan orang yang ingin memuaskan dirinya sendiri.
Dalam bacaan pertama, Amos dengan tegas mengecam perilaku para pedagang yang mengejar keuntungan finansial dengan melakukan berbagai kecurangan. Mereka begitu serakah dan curang dengan cara memperkecil takaran, menaikkan harga dan menipu dengan neraca palsu; supaya “membeli” orang papa. Mereka adalah gambaran orang yang mengabdi mamon. Artinya gambaran orang yang mengabdi pada kesenangan dan memuaskan diri sendiri. Bagi Amos, Allah tidak akan menutup mata dan melupakan begitu saja perbuatan mereka itu.
Bacaan Injil hari ini berbicara tentang perumpamaan seorang bendahara. Seorang bendahara yang hampir dipecat oleh tuannya karena dituduh telah menghamburkan uang tuannya. Bendahara itu bertindak dengan cerdik untuk menyelamatkan dirinya. Bendahara itu memanggil semua orang yang meminjam uang tuannya. Kemudian meringankan hutang setiap orang yang berhutang kepada tuannya itu. Bendahara itu kemudian dipuji oleh tuannya karena tindakannya yang cerdik itu.
Kisah injil ini hendak mengajarkan orang untuk menjadi cerdik juga. Dunia zaman sekarang dipenuhi dengan banyaknya kepalsuan. Dimana-mana ada penipuan. Ketidakjujuran malah seperti hal yang biasa di dunia sekarang ini. Meski begitu, kita sebagai orang beriman harus bertahan untuk jujur. Cerdik bukan berarti tidak jujur. Orang yang tidak jujut memang seringkali cukup cerdik untuk membodohi orang lain. Namun kita diajak untuk lebih cerdik, dan memelihara kecerdikan yang tidak diwarnai ketidakjujuran.
Ketika kita mampu mempertahankan kejujuran sebagai kualitas yang unggul dari seorang pengikut Kristus, niscaya kecerdikan kita akan senantiasa diasah dan dituntun oleh Allah demi melepaskan kita dari jerat penipu yang menyengsarakan kita. Iman dan kejujuran adalah hal yang berkaitan. Kejujuran adalah suatu kesalehan dan kehormatan. Sebagaimana dikatakan dalam kutipan dari surat Paulus yang pertama kepada Timotius. Allah menghendaki kita selamat dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Sudahkah kita berusaha hidup dalam kebenaran yang dikehendaki Allah?
(Dkn. Marciano Pantow)
“Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Luk. 16:13).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, berilah kami rahmat-Mu agar kami mampu menahan godaan untuk mengabdi kepada harta kekayaan dan memilih untuk mengabdi kepada-Mu dengan tulus. Amin











