“Membangun Relasi dengan Allah”: Renungan, Minggu 11 September 2022

0
1869

Hari Minggu Biasa XXIV (H).

BcE Kel. 32:7-11,13-14; Mzm. 51:3-4,12-13,17,19; 1 Tim. 1:12-17; Luk. 15:1-32


Sebagai orang beriman, kita tahu bahwa Allah adalah Dia yang mampu melakukan segala sesuatu. Lebih dalamnya lagi, kita sering menyebut-Nya sebagai Bapa, sebagai seorang Ayah yang penuh belas kasih, memberi perlindungan bagi kita dari segala mara bahaya dan pengampunan ketika kita berbuat salah.

Hari ini dalam bacaan-bacaan Kitab Suci, telah dikisahkan bagaimana Allah yang penuh belas kasih. Hal itu dihadirkan kepada kita, agar kita tahu dan sadar akan cinta-Nya yang begitu besar bagi manusia. Dalam Injil telah dikisahkan lewat tiga perumpamaan, tentang domba yang hilang, dirham yang hilang dan anak yang hilang. Tiga perumpamaan ini dijelaskan Yesus untuk memberi pemahaman kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat yang secara jelas menolak akan kehadiran orang-orang berdosa. Bagi mereka orang berdosa tidak layak diberi tempat yang khusus. Sikap mereka yang seolah-olah menganggap diri paling benar dan suci ini kemudian dipatahkan oleh Yesus dengan menegaskan bahwa, apa yang hilang dengan kata lain berdosa tidak seharusnya dibiarkan. Melainkan dicari kembali, dirangkul dan diberi tempat yang layak. Mereka layak diterima agar memperoleh keselamatan. Seperti yang dijelaskan dalam bacaan pertama, walaupun awalnya Allah begitu murka terhadap bangsa Israel yang menyimpang dari ajaran-Nya, akan tetapi kemudian Allah kembali luluh karena melihat Musa yang masih berpegang teguh akan janji yang telah dibuat oleh Allah sendiri. Musa begitu yakin bahwa Allah tidak akan pernah mengubah janji-Nya, apalagi meninggalkan manusia yang masih terkurung dalam dosa.

Sebagai manusia biasa tentu kita sering jatuh dalam perbuatan dosa. Kita sering terlena dengan keinginan daging dan mengesampingkan Allah. Kita lupa untuk membangun relasi pribadi dengan Allah, sehingga arah dan tujuan hidup kita tidak jelas dan selalu berakhir dengan perbuatan dosa. Meskipun demikian, Allah tidak meninggalkan kita, melainkan Dia selalu memanggil kita untuk kembali pada-Nya.

Seperti yang dijelaskan oleh Paulus dalam bacaan kedua, meskipun sudah banyak berbuat dosa, namun Allah tetap memberi pengampunan kepadanya. Allah tidak melihat perbuatan dosanya, melainkan melihat dirinya yang harus diselamatkan, begitu juga dengan kita. Menyadari segala kesalahan kita terhadap Allah dan mau membangun kembali relasi bersama-Nya adalah proses yang penting. Allah maha baik, Dia adalah Bapa yang penuh belas kasih yang selalu menerima anak-anak-Nya untuk kembali kepada-Nya.

(Fr. Relly Ndana)

 

“Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa” (Luk. 15:21).

 

Marilah berdoa:

Bapa, ampunilah aku manusia yang berdosa ini. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini