“Hidup yang Baru” Renungan: Jumat, 2 September 2022

0
1214

Hari Biasa (H)

BcE 1Kor. 4:1-5; Mzm. 37:3-4,56,27-28,39-40;“Hidup yang Baru

Injil hari ini berbicara mengenai hal berpuasa. Sebenarnya yang menjadi persoalan bukan mengenai berpuasa atau tidak berpuasa. Melainkan apa yang menjadi alasan bagi kita untuk berpuasa?

Dalam Perjanjian Lama, puasa mengungkapkan perasaan dukacita yang dilaksanakan pada hari penghapusan dosa. Dalam Injil, Yesus dikritik oleh kaum Farisi tentang cara berpuasa Yesus dan para murid-Nya yang tidak lagi mengikuti tradisi yang ada. Yesus menjawab kritikan itu dengan membuat sebuah ilustrasi mengapa orang itu berpuasa: Ketika mempelai tidak ada bersama dengan mereka maka mereka harus berpuasa. Namun, jika mempelai ada bersama dengan mereka untuk apa mereka berpuasa? Mereka harus bersukacita sebab mempelai ada bersama dengan mereka. Mempelai ini merupakan gambaran tentang Allah. Oleh karena kehadiran Allah maka hendaklah mereka bersukacita. Selain ilustrasi tersebut, Yesus juga memberikan beberapa ilustrasi lain untuk menjelaskan kepada mereka mengapa orang harus berpuasa.

Yesus sedang menunjukkan kepada kita cara hidup yang baru. Ia menjelaskan kepada kita gambaran dan pemahaman-Nya tentang Allah. Oleh karena Allah telah memperlihatkan kepada kita hal-hal baru, maka kita dituntut untuk memiliki semangat dan cara hidup yang baru juga. Kita diajak untuk memiliki hidup yang baru sesuai dengan apa yang Yesus ajarkan.

Memang kadangkala kita sebagai manusia susah dan sangat sulit untuk keluar dari zona nyaman kita. Namun kita diajak untuk keluar dari zona nyaman itu dan bersama melangkah maju menuju hal-hal baru yang berguna bagi kita. Dengan mengikuti ajakkan Yesus untuk memulai hidup yang baru, kita telah menunjukkan bukti cinta dan kasih kita kepada Tuhan. Kita rela untuk melepaskan segala kenyamanan dan mengikuti Yesus dengan segala hal baru yang telah Ia sediakan bagi kita.

Tidak hanya itu saja, hal penting lain adalah kita mampu untuk mengubah semangat hidup kita. Ada orang yang hanya berpegang teguh pada aturan dan tradisi. Puasa dijalankan dengan rajin, hanya karena mengikuti aturan dan tradisi yang ada sehingga puasa yang dijalankan tidak dihayati dengan baik. Oleh karena itu, sebagai manusia yang beriman kepada Allah, kita hendaknya berpuasa dengan semangat yang berasal dari hati agar kita semakin dekat dengan Allah dan  memperoleh keselamatan.

(Fr. Edwar Adelbert Mere)

“ Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itu aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan” (1Kor 4:4).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga melalui Sabda-Mu, kami selalu hidup dalam semangat dan kebiasaan yang baru. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini