“Hidup Dalam Kasih”: Renungan, Senin 29 Agustus 2022

0
1647

PW.Wafatnya St. Yohanes Pembaptis,Mrt. (M)

BcE.Dr.Rybs.Yer.1:17-19;Mzr.71:1-4.5-6b.17;R:15a;Mrk.6:17-29

Hari ini Gereja Katolik memperingati wafatnya St. Yohanes Pembaptis sebagai peringatan wajib untuk menghormati sikap kemartirannya. Dia adalah sosok yang menjadi jalan pembuka bagi kedatangan Yesus Kristus. Maka tidak heranlah jika St. Yohanes Pembaptis menjadi sosok nyata yang mengamalkan perintah Yesus di tengah dunia semasa dia hidup.

Dalam bacaan Injil, dia berusaha menegur Herodes yang telah mengambil Herodias menjadi istrinya. Dia menganggap hal itu sebagai tindakan yang tidak benar karena Herodes telah mengambil istri saudaranya. Tindakan St. Yohanes Pembaptis justru tidak disukai. Pada akhirnya St. Yohanes Pembaptis harus dihukum mati dan menjadi martir karena tindakan kebajikannya tidak disukai. Meski begitu Yohanes tidak gentar.

Sikap yang ditunjukkan St. Yohanes Pembaptis adalah contoh nyata dari hukum kasih yang diperintahkan oleh Yesus dan patut kita teladani. Kita manusia zaman modern diajak untuk tidak gentar dalam mengamalkan hukum kasih. Ketika tahu bahwa ada saudara kita yang melakukan hal berlawanan dengan hukum kasih, maka kita harus berani menegur mereka. Seperti halnya bacaan pertama yang menekankan sikap hidup yang tidak gentar. Dikatakan bahwa kita jangan gentar kepada mereka, agar supaya Tuhan tidak menggentarkan kita. Artinya, kita jangan pernah gentar kepada mereka yang berusaha menyingkirkan tindakan kasih di tengah dunia.

Kristus menjadikan kita murid-murid-Nya dengan harapan supaya kita mewartakan kasih  apapun resikonya. Ini sudah ditunjukkan oleh para martir yang rela mengorbankan nyawa demi memperjuangkan hal tersebut di tengah dunia, seperti yang ditunjukkan oleh St. Yohanes Pembaptis.

Kita tidak harus bertindak seperti para martir karena zaman sudah berubah. Tetapi apakah kita mampu mengamalkan kasih Kristus di tengah dunia modern dan berani memikul salib-Nya? Pastinya kita sebagai orang yang beriman kepada Allah Tritunggal bisa melakukan hal tersebut dalam iman, harap, dan kasih. Sebagai orang yang punya akal budi dan beretika, kita dituntut menjadi pribadi yang selalu mengikuti suara hati. Sebagai pribadi yang otonom kita harus menjadi orang yang mengamalkan kasih dalam diri kita sendiri dan sebagai makhluk sosial, tentunya kita punya kewajiban untuk membantu orang lain agar selalu terarah pada tindakan kasih.

 (Fidelis Kumarurung)

“Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di hadapan mereka!” (Yer.1:17b).

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, semoga saya bisa menjadi pribadi yang berani mewartakan kasih. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini