Hari Minggu Biasa XXII (H)
Sir. 3:17-18,20,28-29; Ibr. 12:18-19,22-24a; Luk. 14:1,7-14
Di beberapa tempat, mendapatkan tempat terkemuka merupakan hal yang sangat didambakan. Bahkan segala cara akan diupayakan demi hal ini. Terkadang orang hanya memikirkan target dan lupa akan cara serta jalan yang ditempuh. Orang melakukan itu semua hanya untuk bermuara pada kesenangan dan kepuasan pribadi semata.
Hal inilah yang dikritik Yesus dalam Injil Lukas hari ini. Yesus mengkritik bukan untuk mau menjatuhkan tetapi malah untuk memberi pengajaran kepada para murid tentang kehormatan dan keluhuran tanpa pamrih. Hal ini bertolak dari apa yang diperbuat oleh orang-orang Farisi tentang sikap mereka yang berusaha menduduki tempat-tempat terhormat.
Yesus mengutarakan perumpamaan ini untuk membuka wawasan orang-orang supaya sadar akan identitas dirinya. Sebab tidak jarang orang-orang mau menempati bahkan berebut tempat kehormatan. Kehormatan dianggap menjadi salah satu hal primordial yang patut diusahakan kendati harus melakukan pelbagai cara. Putra Sirakh mengatakan hal yang sama bahwa sikap demikian hanya akan membawa orang kepada kehancuran, dan akhirnya tidak berbuah apa-apa.
Yesus tidak meluluskan hal ini. Kehormatan bukan menjadi kunci segala sesuatu. Pemberian diri disertai usaha tanpa pamrih menjadi modal dan model yang diperlukan. Singkatnya, ketika mengerjakan segala sesuatu bukan untuk menerima balasan, bukan untuk dilihat orang atau untuk dipuji orang, tetapi melakukan dengan ketulusan karena diperlukan dan dibutuhkan.
Realitanya di berbagai lini kehidupan, orang-orang begitu terobsesi dengan kehormatan. Konsekuensinya, demi kehormatan orang begitu sibuk untuk mengejar posisi dan jabatan tertentu. Di satu sisi, orang melupakan sesuatu yang prioritas. Orang mengejar sesuatu dan mengabaikan yang lain.
Yesus dalam bacaan hari ini mau menyadarkan dan mengingatkan: siapakah tujuan hidup kita dan hidup kita terarah ke mana? Bahwa tujuan hidup kita adalah Allah. Sebab hidup kita terarah kepada hidup kekal sebagaimana telah dianugerahkan Allah berkat Kristus. Maka untuk dapat datang dan tinggal bersama dengan Allah dan Kristus, kita diminta untuk merendah. Karena hanya dengan sikap demikian, kita akan mendapat karunia di hadapan Allah.
Pesan bacaan hari ini sederhana untuk mengingatkan siapa saya dan apa yang harus saya perbuat. Bahwa sebagai anak Allah, saya pantas merendah, sebagaimana Allah telah merendah, kendati Dia Putra Allah, Dia mau menjadi sama dan mengambil rupa sebagai manusia. Hanya dengan sikap demikian, hidup kita dapat terarah dan bersatu dengan Allah.
(Fr. Ekaristho G. Silap)
“Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan” (Luk 14:11).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, bantulah aku supaya senantiasa bisa merendah seperti yang telah Engkau teladankan. Amin.











