“Menjadi Penerus Rencana Allah di Dunia”: Renungan, Kamis 26 Mei 2022

0
1238

HARI RAYA KENAIKAN TUHAN (P)

Kis. 1: 1-11; Mzm. 47:2-3,6-7,6-7,8-9; Ef. 1:17-23 atau Ibr. 9:24-28; 10:19-23; Luk. 24:46-53.

Hari ini Gereja universal merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan. Di mana, ada empat peristiwa penting dalam perjalanan Yesus di dunia ini dan itu selalu kita rayakan setiap tahunnya, yakni Natal (kelahiran Kristus), Wafat Kristus (Penebusan dosa), Paskah (Kristus bangkit), dan Kenaikan Tuhan. Dari peristiwa-peristiwa tersebut, maka misi Yesus pun selesai dan sekarang diserahkan kepada para murid untuk melanjutkannya. Yesus mengatakan bahwa tidak cukup misi yang ada hanya untuk orang Yahudi, melainkan harus diperluas. Yesus membuka paradigma atau cara pandang baru bagi para murid tentang misi keselamatan yang harus diwartakan, bukan hanya untuk orang Yahudi tetapi juga ke seluruh dunia. Dengan demikian jelas bahwa dalam pewartaan Injil tidak boleh ada keberpihakkan kepada orang atau individu tertentu, kelompok tertentu, dan bangsa tertentu. Karena yang hendak diwartakan atau dilayani bukan kerajaan dunia tetapi Kerajaan Allah yang menjadi harapan dan tujuan semua orang yang beriman akan Allah.

Misi para murid menjadi jelas, yakni mewartakan Injil atau kabar gembira ke seluruh seluruh dunia agar semua orang dapat mengenal dan mengimani Allah di dalam pribadi Kristus. Oleh karena itu, para murid diharapkan tidak boleh menyimpang dari misi tersebut, karena sebelum Yesus terangkat ke surga, Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka, serta Ia juga berjanji tidak akan meninggalkan mereka dan terus menyertai (Luk. 24:50). Yesus juga berjanji kepada para murid di mana mereka akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas mereka, dan mereka akan menjadi saksi Kristus di Yerusalem serta di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8).

Hari Raya Kenaikan Tuhan mengandung pesan iman untuk kita semua, bahwa kita dipanggil untuk melanjutkan misi yang diberikan kepada para murid. Misi yang ada dapat kita realisasikan di dalam lingkungan keluarga, gereja, masyarakat, dan dimana pun kita berada. Namun kita juga tetap menyadari, bahwa dalam mewartakan Injil atau pelayanan janganlah kita membeda-bedakan individu, kelompok, golongan dan bangsa tertentu. Bahkan, kendati dalam proses pewartaan tidak berjalan baik sebagaimana diharapkan, namun kita harus tetap berpegang pada apa yang menjadi panggilan kita, yakni sebagai perpanjangan tangan Tuhan kepada seluruh umat manusia.

(Fr. Loiz Wazi)

“Kamu adalah saksi dari semuanya ini” (Luk. 24:48).

Marilah berdoa:

Ya Allah sumber pengharapan, kuatkanlah dan teguhkanlah hati kami agar kami mampu mewartakan tentang Kerajaan-Mu kepada seluruh umat manusia. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini