“Aku Memberikan Kelegaan kepada-Mu”: Renungan, Selasa, 17 Mei 2022

0
1864

Hari Biasa Pekan V Paskah (P)

Kis. 14:19-28; Mzm. 145:10-11, 12-13b, 21; Yoh. 14:27:31a

Hidup ini adalah sebuah pilihan. Setiap orang akan memilih apa yang menurutnya baik untuk dilakukan. Ketika ia memilih untuk bahagia, maka ia akan mengarahkan hidupnya dan mengusahakan segala sesuatu untuk hidup bahagia. Akan tetapi, dalam menjalani panggilan hidupnya, ia akan senantiasa terbuka untuk menerima segala yang akan terjadi padanya, di mana ketika sukacita datang, ia akan bahagia, tetapi ketika sukacita itu pun tidak datang, ia akan berusaha selalu untuk bahagia.

Dalam bacaan-bacaan pada hari ini, Tuhan memanggil umat-Nya untuk menjadi pribadi yang bahagia. Dalam bacaan pertama, di sana dikatakan bahwa murid-murid melakukan perbuatan-perbuatan baik. Misalnya, mereka saling menguatkan dan menasihati, serta bertekun dalam iman. Mereka bertekun dalam usaha bagaimana mereka mengusahakan Kerajaan Allah. Dalam panggilan hidup mereka, mereka senantiasa berdoa dan berpuasa. Itu semua demi mencapai suatu persatuan yang suci dengan Tuhan sehigga yang dibangun bersama dengan Tuhan menjadi lebih akrab dan harmonis. Mereka sangat terlibat secara aktif dalam pemberitaan mengenai Injil dan Kerajaan Allah, dan mereka yang setia melakukan tugas panggilan mereka. Karena itu, Allah menyediakan tempat yang layak bagi mereka.

Dalam panggilan hidup maupun pergumulan hidup manusia, Tuhan senantiasa memanggil mereka untuk bersatu dengan-Nya secara intim. Tuhan juga menjanjikan yang indah bagi mereka. Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan Yesus dalam bacaan Injil. Ia meyakinkan umat-Nya bahwa semuanya akan indah dan bahagia. Mereka yang menjalani panggilan hidupnya dengan sukacita akan memperoleh sukacita dan kebahagiaan. Yesus katakan bahwa Ia menjanjikan kedamaian bagi mereka yang menjalani panggilannya dengan penuh sukacita. Karena itu kita sekalian diberikan tanggung jawab untuk mengusahakan sukacita dalam kehidupan ini.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan Janganlah gelisah hatimu”. Ungkapan tersebut hendak mengatakan bahwa Yesus senantiasa menguatkan dan meneguhkan umat-Nya. Yesus tak akan meninggalkan mereka, asalkan mereka senantiasa setia dalam doa dan puasa. Sebagai umat-Nya, manusia mesti percaya dan sungguh-sungguh meyakini akan janji Tuhan yang tak pernah Ia ingkari. Oleh sebab itu, marilah kita sekalian menyerahkan hidup dan pergumulan kepada-Nya, sebab hanya di dalam Dialah kita memperoleh kebahagiaan dan sukacita berlimpah.

(Fr. Arsti Onibala)

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”. (Yoh. 14:27)

 

Marilah berdoa:

Tuhan, semoga kami mampu setia melaksanakan perintah-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini