“Kita adalah Satu”: Renungan, Minggu 23 Januari 2022

0
757

Hari Minggu Biasa III (H).

Neh. 8:3-5a,6-7,9-11; Mzm. 19:8,9,10,15; 1Kor. 12:12-30 (panjang) atau 1Kor. 12:12-14,27 (singkat); Luk. 1:1-4; 4:14-21.

Sakramen merupakan pemberian rahmat dan cinta kasih Allah dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera manusia. Terdapat 7 sakramen dalam Gereja. Salah satunya ialah sakramen krisma. Melalui sakramen krisma kita terikat secara sempurna dengan Gereja dan memiliki daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa. Sehingga kita wajib untuk menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati, dengan perkataan maupun perbuatan.

Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita sebagai pengikut Kristus yang telah dewasa dalam iman yakni meneruskan misi dari Yesus. Yesus hadir dan berkeliling untuk mewartakan Kabar Gembira dan keselamatan bagi banyak orang. Yesus menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, memberitakan pembebasan bagi banyak tawanan, penglihatan bagi orang yang buta, membebaskan orang tertindas untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang. Inilah misi Yesus yang perlu kita teruskan karena kita merupakan orang-orang yang sudah dewasa dalam iman.

Tidak mudah meneruskan misi Kristus itu. Maka untuk melaksanakan misi tersebut kita wajib untuk saling bersatu. Bacaan kedua mengatakan supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi agar anggota yang berbeda itu saling memperhatikan(1 Kor. 25). Maka kita perlu ingat bahwa kita sebagai satu anggota tubuh dengan Yesus sebagai kepalanya.

St. Paulus memberikan ilustrasi yang sangat indah tentang pentingnya saling menghargai dan persatuan antara orang-orang yang percaya kepada Kristus. Meskipun kita memiliki latar belakang yang berbeda-beda seperti suku, budaya dan bahasa. Namun kita harus melihat perbedaan tersebut sebagai hal untuk saling memperkaya pemikiran atau pandangan kita untuk kita bisa menjalankan misi Kristus. Sehingga kita memiliki kewajiban untuk melaksanakan persatuan bukan saling menjatuhkan.

Bacaan pertama mengingatkan kepada kita bahwa betapa pentingnya mendengarkan Kitab Suci. Melalui hal tersebut, kita akan memiliki Roh Kudus yang menguatkan dalam diri kita sehingga akan selalu dekat dengan Tuhan. Kebiasaan mendengarkan Kitab Suci sudah ada sejak zaman Perjanjian Lama. Dikatakan dalam bacaan pertama ketika Kitab dibacakan semua orang baik pria maupun wanita mendengarkan dengan penuh perhatian. Pada saat pagi hari sampai dengan tengah hari (Bdk. Neh. 8:3). Tanpa bosan mereka mendengarkan Sabda Tuhan di dalam Kitab suci.

(Fr. Marciano Pantow)

« Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan  kabar baik kepada orang-orang miskin dan Ia telah mengutus Aku » (Luk. 4:18).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bimbinglah kami dalam meneruskan misi perutusan-Mu agar semakin banyak orang menjadi percaya. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here