“Melawan Kemustahilan”: Renungan, Sabtu 22 Januari 2022

0
645

Hari Biasa (H).

2Sam. 1:1-4,11-12,19,23-27; Mzm. 80:2-3,5-7; Mrk. 3:20-21.

Di sebuah desa hiduplah seorang bapak. Ia bekerja sebagai petani ladang. Kebetulan di desanya kesulitan air bersih akibat tanah yang tandus. Melihat itu sang bapak berinisiatif menanam pohon di sekitar bukit yang begitu gersang. Berapa puluh tahun kemudian pohon yang ia tanam bertumbuh besar dan dapat menghidupi tanah yang gersang dan kering tersebut. Termasuk menghasilkan air bersih. Awalnya tindakan sang bapak dianggap gila oleh warga bahkan keluarganya sendiri. Namun tindakan yang dipandang gila itu justru menjadi berkat bagi warga desa setempat.

Dalam Bacaan Injil ditampilkan sosok Yesus yang melawan kemustahilan di mata manusia. Tindakan Yesus menimbulkan pertanyaan bagi setiap orang semasa-Nya bahwa apakah Yesus adalah seorang yang tidak waras? Kata mereka, Yesus mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Peristiwa ini membuat keluarga Yesus merasa malu. Mereka datang kepada Yesus hendak menghantar-Nya pulang.

Peristiwa yang dialami Yesus juga sering kali kita alami dan jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita memimpikan sesuatu dan ingin maju, seringkali kita dihadang oleh berbagai persepsi dari orang-orang di sekitar kita. Apalagi tujuan yang hendak kita gapai, kurang sesuai dengan kemampuan kita dan mungkin mustahil untuk terjadi.

Sebagaimana dalam bacaan pertama diceritakan suatu kemustahilan bahwa bagaimana mungkin orang-orang seperti, Yonathan dan Saul yang ditunjuk sebagai kepala pasukan untuk memimpin bangsa Israel, bangsa pilihan Allah yang maju berperang melawan musuh-musuh mereka, dapat juga mati. Tak heran muncul ungkapan demikian, “Apa yang tidak mungkin di mata manusia, terjadi di hadapan Tuhan”.

Bisa jadi orang yang kita anggap sepele hari ini, menjadi luar biasa di masa yang akan datang. Begitu pula orang yang kita anggap kuat hari ini, belum tentu sama di masa mendatang. Untuk itu, kita senantiasa berdoa memohon kepada Tuhan untuk melindungi kita. Itulah yang dibuat pemazmur, yang mendoakan keselamatan bagi bangsa Israel kendati mereka berkali-kali berbuat dosa di hadapan Allah.

Sebagai orang beriman, kiranya kita memiliki sikap penyerahan diri yang total kepada Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan senantiasa membimbing kita dengan kuasa Roh Kudus, sehingga memampukan kita melangkah maju dan mencapai tujuan yang kita harapkan.

(Fr. Karlos Tutratan)

“Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat” (Mrk. 3:20).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk berjuang tanpa takut, sebab di dalam Engkau kami percaya semuanya akan terjadi sesuai kehendak-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here