“Berjaga-jagalah!” : Renungan, Sabtu 27 November 2021

0
599

Hari Biasa (H).

BcE Dan. 7:15-27 ; MT Dan. 3:82-87 ; Luk. 21:34-36.

Setiap orang pasti pernah mengalami ketakutan dan kecemasan karena berbagai hal. Kita sering kali cemas dan takut akan keadaan diri sendiri, keluarga dan juga akan hal-hal lain di luar diri kita. Situasi pandemi saat ini juga membuat kita merasa cemas dan takut akan keberlanjutan hidup kita. Tetapi, bacaan-bacaan hari ini menguatkan kita bahwa semua ketakutan dan kecemasan itu dapat diatasi apabila kita sudah siap terlebih dahulu.

Penulis Kitab Daniel menceritakan bagaimana orang yang selalu siap dan berjaga-jaga dalam hidupnya, akan merasakan kebaikan Allah. Seperti orang-orang Kudus milik Yang Mahatinggi yang tetap bertahan dalam penganiayaan, pada akhirnya mereka yang tetap setia dan bertahan dalam penganiayaan akan menerima kuasa pemerintahan. Hal ini mau menggambarkan bagaimana umat Allah yang selalu setia dan bertahan dalam menjalani hidupnya, akan memperoleh berkat dan kebaikan dari Allah. Untuk mencapai semuanya itu, diperlukan usaha yang tak lain adalah tetap setia dan tetap berjaga-jaga. Penulis Injil Lukas pun secara jelas menceritakan bagaimana pentingnya sikap siap sedia dan berjaga-jaga sambil berdoa memohon kekuatan dari Allah. Tujuannya agar kita dapat luput dari segala pencobaan dan dapat tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.

Sikap berjaga-jaga bukanlah semata-mata sebagai tindakan untuk berjaga karena ada bahaya yang mengancam dan setelah bahaya itu hilang kita sudah tidak berjaga-jaga lagi. Sikap berjaga-jaga sesungguhnya harus terjadi terus-menerus dalam hidup kita meskipun ada berbagai halangan dan rintangan yang dihadapi, dimana kita menantikan kedatangan Tuhan. Itulah berjaga-jaga yang sejati.

Berjaga-jaga tidak akan mencapai kepenuhan maknanya apabila tidak disertai dengan sebuah tindakan. Berjaga-jaga haruslah disertai dengan tindakan nyata yang tentunya juga harus menghasilkan buah-buah yang baik. Menjauhkan diri dari bebagai tindakan dan kegiatan yang merusak dan merugikan diri sendiri adalah sikap berjaga-jaga yang dapat menguatkan sisi jasmani kita. Kegiatan rohani dan kegiatan belajar adalah tindakan berjaga-jaga yang dapat memelihara dan mengembangkan sisi rohani kita. Menjalin hubungan baik dan harmonis dengan orang lain merupakan sikap berjaga-jaga yang dapat menumbuhkan persaudaraan dan kekeluargaan. Pada akhirnya karena kesetiaan dan ketaatan kita untuk berjaga-jaga, kita akan memperoleh berkat dan kebaikan Allah.

Oleh karena itu, marilah kita selalu berjaga-jaga selama hidup kita. Berjaga-jaga merupakan tindakan yang mudah asalkan kita setia dan taat menjalaninya.

(Fr. Christoforus Lontoh)

“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk. 21 :36).

Marilah berdoa:

Ya Allah, tolonglah kami agar tetap setia dan taat untuk berjaga-jaga dalam hidup kami. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here