“Untuk Tugas Mulia”: Renungan, Jumat 15 Oktober 2021

0
489

Pw S. Teresia dr Yesus, PrwPujG (P).

Rm. 4: 1-8; Mzm. 32:1-2,5,11; Luk. 12:1-7;

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk sebuah tugas perutusan yang mulia. Dikatakan “mulia” sebab tugas itu bukan semata-mata berasal dari manusia melainkan dari Allah sendiri. Oleh karena dari Allah maka tugas itu mesti dipandang sebagai rahmat yang harus dijalankan dalam iman yang benar akan Allah. Dan untuk itu semua, ada dua hal pokok yang perlu dilakukan yakni; percaya kepada Allah dan hidup dalam kebenaran.

Percaya pada Allah berarti meyakini bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan atas kehendak-Nyalah manusia diberikan tugas untuk mewartakan kasih dan kebenaran bagi semua orang. Akan tetapi, dapatkah kita mewartakan kasih dan kebenaran Allah itu jika kita sendiri tidak mampu bertahan dalam iman dan percaya kepada-Nya dalam setiap situasi hidup kita? Berkaca dari situasi dunia saat ini, orang mulai ragu akan kuasa Allah dan tak jarang sikap ketidakpercayaan kepada Allah pun makin meningkat. Dan bisa saja kita adalah bagian dari orang-orang yang mulai ragu pada kuasa Allah. Hari ini Rasul Paulus lewat suratnya kepada jemaat di Roma mengingatkan kepada kita bahwa dengan percaya kepada Allah maka iman kita itu diperhitungkan sebagai kebenaran (bdk. Rm. 4:5) dan itu telah ditunjukkan oleh iman Abraham yang kokoh pada Allah.

Hal kedua yang patut kita lakukan adalah hidup dalam kebenaran. Hidup dalam kebenaran berarti hidup secara benar, jujur dan tidak munafik. Jujur terhadap segala sesuatu yang kita lakukan dan tidak bersikap munafik kepada siapa saja. Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa kita mesti mengusahakan segala hal yang baik dan benar dalam hidup kita sama seperti Sta. Teresia dari Yesus yang kita peringati hari ini yang semasa hidupnya telah menunjukkan sebuah keteladanan hidup yang baik dan benar karena imannya kepada Allah.

Kita pun diajak untuk berlaku benar sebab di hadapan Allah tidak ada yang tersembunyi. Hal itu sendiri telah disampaikan oleh Yesus dalam pengajaran-Nya kepada orang banyak bahwa tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang takkan dibuka, dan tiada sesuatu pun yang tersembunyi yang takkan diketahui (bdk. Luk. 12:2). Ini menjadi pertanda bagi kita bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada dalam hidup kita bahkan sehelai rambut kita pun Allah mengetahuinya.

(Fr. Stivan Caspar Resubun)

 

 “Bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya” (Luk. 12:7a).

Marilah Berdoa:

Tuhan, tambahkanlah imanku. Amin.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here