“Syarat menjadi Pengikut Kristus”: Renungan, Minggu 19 September 2021

0
607

Hari Minggu Biasa XXV (H)

BcE Keb. 2:12,17-20Mzm. 54:3-4,5,6,8Yak. 3:16-4:3Mrk. 9:30-37

Malu bertanya, sesat di jalan. Itulah yang terjadi pada murid-murid Yesus. Walau tidak mengerti perkataan Yesus mengenai kematian dan kebangkitan-Nya, mereka enggan bertanya. Akibatnya mereka sesat. Ini tampak dari topik pembicaraan mereka kemudian, yaitu tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Dari apa yang dikatakan Yesus saat itu dengan apa yang diperbincangkan oleh para murid-Nya jelas tidak berkorelasi. Mereka memiliki pemikiran bahwa Yesus adalah pemimpin versi dunia, dengan kuasa dunia dan setelah kematian-Nya maka kepemimpinan-Nya harus ada yang meneruskan. Maka topik perbincangan mereka adalah siapakah yang terbesar di antara mereka yang akan mengambil alih kepemimpinan Yesus.

Manusia cenderung mengejar prestasi dan prestise untuk mendapatkan tempat yang terhormat. Kecenderungan manusia sering membuat manusia lupa akan kepentingan orang lain. Keinginan itu disebutkan dalam surat Yakobus sebagai hawa nafsu. Bertindak atas dasar hawa nafsu adalah sia-sia. “Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh, kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu”.

Menyadari pemikiran para murid yang gagal paham itu, maka Yesus menegaskan,  “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Kebesaran sejati bukan menempatkan diri di atas orang lain supaya dimuliakan, melainkan menempatkan diri untuk melayani dan menjadi berkat bagi sesama. Menjadi murid adalah panggilan untuk berjalan bersama Yesus, mendengarkan perkataan Yesus, melakukan dan melayani seperti yang diteladankan oleh Yesus sendiri.

Dalam hidup ini kita juga masih terus diperdaya oleh godaan untuk menjadi yang terbesar, terkemuka, terdepan, terpenting, ingin lebih dari orang lain. Hasrat untuk menjadi lebih seharusnya tidak dimiliki oleh seorang pengikut Yesus. Oleh karena itu, sebagai pengikut Yesus hendaknya memiliki hati seorang hamba yang merendahkan diri dan mengutamakan orang lain. Ingat teladan Tuhan Yesus pada saat hidup-Nya, di mana Ia telah merendahkan diri-Nya, rela dianggap tidak berarti dan rela memikul salib demi kita semua.

(Fr. Dedianus Pati)

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Mrk. 9:35).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah aku untuk mengikuti Engkau. Amin.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here