“Bahagia karena Menderita”: Renungan, Senin 6 September 2021

0
589

Hari Biasa (H)

BcE Kol. 1:23 -2:3; Mzm. 62:6-7,9; Luk. 6;6-11. BcO Am. 8:1-14

Dalam bacaan pertama Paulus melukiskan penderitaannya kepada jemaat di Kolose. Akan tetapi penderitaan itu bukanlah penderitaan yang mencengkam hidup rasul Paulus, melainkan sebuah sukacita. Rasul Paulus telah menderita demi menggenapkan dalam dagingnya apa yang kurang pada penderitaan Kristus.  Lukas kemudian dalam bacaan Injil mengisahkan tentang Yesus yang mengalami masalah sebelum menyembuhkan seorang yang mati tangan kanannya. Masalah ini disebabkan karena kecemburuan dari Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dan ini menjadi sebuah derita yang harus ditanggung Yesus dalam mewartakan Kerajaan Allah di dunia.

Dalam kehidupan kita sehari-hari tentu ada begitu banyak problem yang kita hadapi. Setiap problem itu memiliki dampak tersendiri bagi kehidupan kita sesuai dengan jangkauan problem itu berdampak. Bacaan-bacaan kitab suci hari menjadi tanda bahwa problem-problem itu tidak memandang jabatan, kedudukan, pangkat, dll; artinya bahwa setiap orang akan mengalami problem dalam hidup.

Yesus dalam bacaan Injil pun mengalami hal yang sama. Akan tetapi problem yang dialami Yesus tidak membuat Yesus berhenti untuk melakukan hal-hal yang baik, begitu pula rasul Paulus. Dilukiskan dalam bacaan Injil bahwa Yesus mengetahui apa yang dipikirkan oleh Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, sehingga Yesus memulai karya penyembuhan-Nya dengan bertanya “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat; berbuat baik atau berbuat jahat?”. Pertanyaan Yesus ini menunjukkan bahwa dari segala problem yang kita hadapi, terdapat peluang bagi kita untuk melakukan perbuatan baik terhadap sesama.

Dunia zaman sekarang ini sedang dilanda masalah karena virus Covid-19. Ini merupakan problem besar bagi manusia. Pertanyaannya, apakah dengan problem ini kita sebagai orang Katolik mampu untuk bertindak seperti rasul Paulus yang menjadikan derita sebagai kegembiraan karena Yesus Kristus? Apakah kita mampu bertindak seperti Yesus yang ketika diperhadapkan dengan sebuah tantangan tetap melakukan perbuatan baik? Jawabannya ada dalam keputusan kita masing-masing.  Semoga lewat bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini kita semua semakin berani dan semakin bijak untuk menghadapi problemproblem kehidupan tanpa mengesampingkan perbuatan kasih terhadap sesama.

(Fr. Maryono Suarlembit)

“Sekarang aku bersuka cita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat” (Kol. 1:24).

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, bantulah kami untuk semakin berani membagi kasih terhadap sesama. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here