“Mengarahkan Diri kepada Yesus”: Renungan, Jumat 3 September 2021

1
580

Hari Biasa (H)         

BcE Kol. 1:15-20; Mzm. 100:2,3,4,5; Luk. 5:33-39

Setiap agama memiliki ritual puasa. Puasa merupakan salah satu kewajiban yang harus dijalankan oleh para pemeluk agama. Sering kita mendengar bahwa puasa dilakasanakan dengan cara  mengurangi makan dan minum dan mengendalikan diri dari hawa nafsu serta kepentingan diri sendiri. Puasa yang dikehendaki oleh Allah mengarahkan diri pada Yesus dan menghidupi perintah-Nya. Injil hari ini memperlihatkan tentang orang Farisi yang mempertanyakan cara Yesus melatih para murid-Nya berpuasa karena tidak mengikuti tradisi yang telah dilakukan oleh bangsa Israel.

Yesus memperbaharui pemahaman mereka tentang cara berpuasa. Menurut Yesus, puasa yang terutama adalah mengarahkan para murid-Nya pada diri-Nya. Yesus menyatakan bahwa pada saat mempelai laki-laki diambil dari mereka, saat itulah mereka akan berpuasa. Tetapi selagi Ia masih ada bersama mereka maka para murid-Nya harus ada dalam suasana sukacita dan kegembiraan. Jadi para murid tidak berpuasa saat mempelai itu ada bersama mereka.

Jawaban yang diberikan oleh Yesus mau menegaskan bahwa tujuan dari puasa  merenungkan dan mengarahkan diri akan kasih Yesus kepada para murid-Nya. Ungkapan  permenungan dan pengarahan diri pada Yesus dapat diwujudkan dalam berbagai cara. Cara yang ditempuh Gereja adalah berpuasa dan mengendalikan diri dari segala dorongan yang kurang terkontrol dengan baik.

Santo Gregorius Agung yang kita rayakan hari ini telah menunjukkan bagaimana cara mengarahkan diri kepada Yesus. Dia selalu membuka hati untuk mendengarkan panggilan Tuhan, walaupun terkadang tidak selalu mudah. Sejak menjadi paus, ia memulai sebuah pembaharuan di dalam Gereja. Kita bisa menemukan banyak pembaharuan yang terjadi, salah satunya dengan munculnya lagu-lagu Gregorian. Kesaksian hidupnya selalu menampilkan Kristus yang membuat dia semakin menyadari  betapa perlunya menghidupi segala sesuatu yang diperintahkan Tuhan.

Kita bukan orang suci, tetapi kita dipanggil untuk  menuju kekudusan. Tidak ada yang tidak mungkin ketika kita mau taat dan setia kepada Tuhan yang memanggil kita. Maka marilah kita mengarahkan diri kepada Yesus, membuka telinga untuk mendengarkan suara-Nya dan siap selalu mengubah hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, kita siap diutus untuk memenuhi panggilan Tuhan menuju kekudusan hidup.

(Fr. Benny Fasak)

“Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia (Kol. 1:17).

Marilah berdoa :

Allah Bapa Maha Kudus, ajarilah kami mampu berpantang dan berpuasa seturut kehendak-Mu. Bimbinglah kami agar selalu mengarahkan hidup kepada Yesus Putera-Mu. Amin.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here