“Maukah Kita Menerima Undangan-Nya”: Renungan, Jumat 27 Agustus 2021

0
570

Pw S. Monika (P)

1Tes. 4:1-8; Mzm. 97:1,2b,5-6,10,11-12 ; Mat. 25:1-13.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan keindahan alam yang memesona. Tak heran jika terdapat begitu banyak tempat wisata, misalnya Danau Kelimutu di Nusa Tenggara Timur, Taman Nasional Bunaken di Manado, dsb. Tempat-tempat wisata ini terbuka bagi siapa saja, baik wisatawan dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Hal ini hendak menunjukkan bahwa siapa saja boleh datang untuk menikmati keindahan yang disediakan oleh berbagai tempat wisata yang ada.

Panggilan hidup dalam Kerajaan Allah ibarat tempat-tempat wisata yang sudah disebutkan. Tuhan selalu mengundang dan memanggil orang untuk masuk dan menikmati keindahan di dalamnya. Dengan kata lain, Kerajaan Allah terbuka lebar bagi siapa saja.

Perjamuan Kawin dalam Injil, sesungguhnya adalah sebuah perumpamaan tentang Kerajaan Allah itu. Siapa saja boleh masuk ke dalamnya, entah itu lima gadis yang bijaksana, maupun lima gadis yang bodoh. Semua mendapat undangan untuk masuk dalam perjamuan kawin itu. Namun, ada lima gadis bodoh yang tidak masuk perjamuan kawin dan itu bukan karena kesalahan mempelai. Itu terjadi, karena kesalahan lima gadis bodoh itu sendiri.

Hal ini menunjukkan bahwa kita semua dipanggil untuk ikut menikmati keindahan Kerajaan Allah. Lalu menjadi pertanyaan, bagaimanakah tanggapan kita terhadap panggilan Allah itu? Apakah kita akan seperti lima gadis yang bijaksana? Ataukah kita akan seperti lima gadis bodoh, yang karena kesalahannya, tidak turut serta dalam perjamuan kawin?

Rasul Paulus sesungguhnya telah menunjukkan jalan keluar atas persoalan di atas. Kepada jemaat di Tesalonika, Rasul Paulus menegaskan bahwa Tuhan memanggil kita bukan untuk melakukan hal yang cemar, melainkan hal yang kudus. Selain itu, kita pun dapat mencontohi apa yang dilakukan oleh Santa Monika yang diperingati hari ini. Melalui ketekunannya dalam berdoa, ia mampu mengarahkan dan mendorong suami dan anaknya kembali ke jalan yang benar.

Dengan demikian, untuk turut serta dalam Kerajaan Allah tergantung dari kita sendiri. Kita dapat menjawab panggilan itu melalui tindakan kita, yang selalu berserah kepada-Nya, serta berusaha untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang cemar dan mendekatkan diri dengan hal-hal yang menguduskan, seperti membantu sesama, mendoakan sesama, berbagi dengan mereka.

(Fr. Stanislaus Andris Laritmas)

“Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus” (1Tes. 4:7).

Marilah berdoa:

YaTuhan, kuatkanlah dan mampukanlah aku agar dapat menjauhkan diri dari hal-hal yang cemar dan mendekatkan diri pada hal-hal yang menguduskan. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here