“Ahli Taurat dan Farisi Modern”: Renungan, Rabu 25 Agustus 2021

0
598

Hari Biasa (H)

1Tes. 2:9-13; Mzm. 139:7-8,9-10,11-12ab; Mat. 23:27-32.

Ada kalimat yang cukup familiar di kalangan orang-orang Manado, yakni “Lebe bae kalah nasi daripada kala aksi”. Istilah ini terdengar kurang baik, tetapi dalam kenyataannya masih ada kalangan orang yang hidup seperti ungkapan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa disadari kita berusaha tampil lebih dari orang lain. Malahan ada yang sampai berbuat yang tidak benar agar terlihat lebih dari orang lain.

Dalam suratnya yang pertama, Paulus menasihati umat di Tesalonika untuk tetap hidup berpegang pada kebenaran Injil. Paulus menasihati mereka dengan penuh kasih, sama seperti seorang bapa mengasihi anak-anaknya, agar hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil mereka masuk dalam kerajaan dan kemuliaan-Nya.

Dalam bacaan Injil, Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena mereka sama seperti kuburan dilabur putih yang bersih luarnya, tetapi dalamnya kotor penuh dengan tulang belulang. Mereka juga menganggap diri mereka benar di mata orang lain, namun sebenarnya penuh dengan kemunafikan dan kedurjanaan.

Kecaman Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menjadi kecaman juga bagi kita semua. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi lebih mementingkan hal-hal yang kelihatan saja. Mereka menganggap bahwa dengan memperlihatkan sesuatu yang baik dari luar diri, itu sudah menyelamatkan hidup mereka. Akan tetapi, bagi Yesus tindakan ini merupakan kemunafikan yang mencelakakan.

Kita seringkali menjadi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi modern. Kita berbuat kebaikan hanya untuk mencari popularitas saja. Kita berbuat kebaikan agar orang lain memandang kita sebagai orang yang baik dari luar. Padahal kenyataannya kita membuat kebaikan dengan tujuan mendapat pujian, mau mendapat dukungan dari orang lain atau mau dikatakan sebagai orang yang terhebat dan sebagainya. Jika demikian halnya, kita membuat diri kita celaka seperti yang dikatakan Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Akan tetapi, jika kita tidak ingin menjadi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi modern, saat ini marilah kita mengintrospeksi diri kita sendiri. Kita melihat ke dalam batin, apakah kita masih menyimpan segala kebusukan dalam hati. Jika masih ada segala kebusukan tersebut, marilah mulai sekarang ini kita membuangnya jauh-jauh dan hidup sesuai ajaran yang benar. Kita selaraskan hati, pikiran dan perbuatan kita dengan ajaran kebenaran.

(Fr. Albertus Solang)

“Demikian jugalah kamu tampak benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh dengan kemunafikan dan kedurjanaan” (Mat. 23:28).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga aku hidup dengan baik, jujur, dan rendah hati. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here