“Mengampuni: Karunia dan Kewajiban”: Renungan, Kamis 12 Agustus 2021

0
596

Hari biasa (H)

Yos. 3:7-10a, 11, 13-17; Mzm. 114:1-2,3-4,5-6; Mat. 18:21-19:1.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita mengalami kekecewaan atau sakit hati dalam hubungan dengan orang lain atau sesama kita, entah itu karena memang disengaja atau tidak. Sebuah hubungan yang telah dibangun sejak lama pun bisa saja renggang karena adanya pihak yang merasa disakiti atau dikecewakan. Rasa kecewa dan sakit hati yang dirasakan dapat pula membawa seseorang pada amarah bahkan hingga pada dendam. Pertanyaannya adalah apakah kita akan membiarkan diri untuk tenggelam dalam amarah dan dendam?

Bacaan Injil hari ini mengisahkan ajaran Yesus tentang hal mengampuni. Ketika Petrus bertanya kepada-Nya harus berapa kali ia mengampuni sesamanya yang telah berbuat dosa terhadapnya, jawaban Yesus adalah “sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Ia juga memberikan perumpamaan tentang seorang hamba yang dilunasi hutangnya oleh tuannya, tetapi kemudian ketika bertemu dengan sahabatnya yang lain yang telah berhutang padanya, ia melakukan hal berbeda yakni memenjarakan sahabatnya itu. Maka, marahlah tuan itu dan menyerahkan hamba itu kepada para algojo.

Yesus sesungguhnya mau menegaskan kepada kita, bahwa perihal mengampuni itu tidaklah memiliki batas. Tidak ada titik di mana kita kemudian berhenti untuk mengampuni sesama kita. Mengampuni adalah karunia bagi kita. Maka itu, hendaknya kita membagikan karunia itu kepada sesama kita. Perihal mengampuni tidaklah mudah. Dalam hal mengampuni diperlukan juga kekuatan hati yang besar. Namun, sesungguhnya mengampuni bukan saja karunia, melainkan juga keharusan bagi kita. Bagaimana tidak jika Allah yang adalah Maha Kuasa telah menunjukkan kemurahan hati-Nya dengan lebih dahulu mengampuni kita? Ia menunjukkan kasih-Nya bagi kita dengan pengorbanan Putra-Nya di atas kayu salib. Bukankah telah begitu besar kesalahan dan dosa yang telah seluruh umat manusia lakukan, namun Ia tetap bermurah hati dan tetap mengasihi kita?

Oleh karena itu, kita pun seharusnya mampu mengampuni sesama kita. Sebesar apa pun kesalahan sesama kita, kita harus mampu mengesampingkan amarah bahkan dendam kita. Dengan menyimpan dendam dan amarah dalam hati, bukankah kita telah menjadi bagian dari si jahat? Allah telah lebih dahulu mengampuni kita, maka kita pun harus mampu mengampuni sesama kita.

(Fr. Suprianus Doliti)

“Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat. 18: 22).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga kami memupuk ketulusan untuk saling mengampuni dan hidup dengan damai sebagai saudara. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here