“Bagaimana Rasanya Ditolak?” : Renungan, Jumat 30 Juli 2021

0
553

Hari Biasa (H)

Im. 23:1,4-11,15-16,27,34b-37; Mzm. 81:3-4,5-6bab, 10-11ab; Mat. 13:54-58

Usaha dan kerja keras yang berujung pada sebuah penolakan merupakan pengalaman yang menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi jika yang menolak adalah orang yang dekat dengan kita. Penolakan ini terjadi karena ada rasa kurang percaya atau bahkan iri dari pihak yang menolak. Pengalaman ditolak ini kerap kali membuat orang merasa kecewa, putus asa, cepat menyerah atau merasa tersingkirkan.

Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus ditolak oleh orang-orang yang berasal dari tempat asal-Nya sendiri, yaitu Nazaret. Awalnya mereka semua takjub akan pengajaran Yesus di rumah ibadat, tetapi semuanya berubah menjadi kekecewaan dan penolakan terhadap Yesus. Kekecewaan dan penolakan itu dipicu oleh latar belakang sosial yang dimiliki oleh Yesus. Bagi mereka, adalah tidak mungkin bagi Yesus untuk memperoleh hikmat dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat. Yesus adalah anak tukang kayu dan seluruh keluarga-Nya mereka kenal serta ada bersama-sama dengan mereka. Bagaimana Yesus memperoleh semuanya itu? Bagi mereka, Yesus bukanlah siapa-siapa. Mereka menjadi tidak percaya pada Yesus. Karena ketidakpercayaan mereka terhadap-Nya, membuat Yesus tidak banyak mengadakan mukjizat di situ.

Jika kita berada di posisi Yesus, pasti yang kita rasakan adalah putus asa dan kekecewaan yang sangat besar. Bagaimana tidak, hal baik yang dilakukan ditanggapi dengan kekecewaan dan penolakan, bahkan oleh orang-orang dekat. Tetapi tidak dengan Yesus. Justru karena hikmat yang dimiliki-Nya, Yesus tetap melaksanakan karya-Nya serta mengasihi semua orang bahkan kepada mereka yang menolak-Nya.

Lewat Injil hari ini, kita dapat belajar bahwa yang terpenting adalah berbuat yang benar kepada siapa saja dan di mana saja tanpa ada rasa takut. Status sosial bukan menjadi alasan yang dapat menutup hati kita untuk berbuat baik bagi siapa saja. Penolakan juga bukan menjadi alasan bagi kita murid-murid Kristus untuk menjadi kecewa dan putus asa, tetapi menjadi sama seperti Yesus yang adalah kasih, terus melakukan kebaikan kepada semua orang. Di sisi lain, Injil hari ini juga mengajarkan kita untuk tidak melihat status sosial sesama sebagai patokan perbuatan baiknya, tetapi ketulusan dan keikhlasan hatilah yang terpenting.

(Fr. Valentino Pandelaki)

“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan Tuhan, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya” (Ams. 3:11).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bukakanlah hati kami agar kami semakin berani berbuat baik bagi sesama kapan dan di mana saja. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here