“Gandum atau lalang?”: Renungan, Selasa 27 Juli 2021

0
525

Hari biasa (H)

Kel. 33:7-11;34:5b-9,28; Mzm. 103:6-7,8-9,10-11,12-13; Mat 13:36-43

Gandum dan lalang terlihat mirip pada awal pertumbuhan. Namun, ketika bulir-bulirnya muncul, bulir gandum lebih berisi dan apabila matang akan berwarna coklat sedangkan bulir lalang kurus dan berwarna hitam.

Saudara/i terkasih, Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus mengartikan perumpamaan lalang di antara gandum. Realita dunia pertanian tersebut digunakan Yesus untuk  menggambarkan bahwa di dalam kehidupan ini kebaikan dan kejahatan selalu ada. Orang baik dan orang jahat hidup bersama-sama di dunia ini. Meski demikian, Tuhan pencipta semesta tetap menoleransinya. Karenanya, kita dapat bertanya: Jika Tuhan hanya menaburkan benih kebaikan mengapa ada kejahatan di dunia? Mengapa Ia membiarkan orang yang baik dan yang jahat hidup bersamaan? Mengapa Ia tidak membersihkan dunia ini dari keberadaan orang-orang jahat?

Jawabannya sederhana saja: karena Tuhan itu pengasih dan penyayang. Bukan sekedar pengasih tetapi Maha-pengasih. Karenanya Pemazmur menyebut Allah sebagai Maha-rahim dan menggambarkan Allah sebagai seorang bapak yang penuh kasih terhadap anak-anak-Nya. Kasih-Nya yang begitu besar membuat Ia tidak segera memusnahkan orang-orang yang jahat dan sesat dari muka bumi ini. Ia membiarkan keduanya tumbuh bersama hingga waktu penghakiman. Meskipun awalnya yang Allah sebarkan adalah benih gandum/kebaikan, dalam proses pertumbuhan gandum itu iblis juga menaburkan benih lalang/kejahatan ke dalam ladang dunia ini. Akibatnya ketika keduanya tumbuh, sulit untuk membedakan keduanya. Sebab itu, kita harus berusaha agar bertumbuh dengan baik sehingga ketika tiba waktu penghakiman, kita dapat dikenali sebagai gandum dan bukan lalang yang akan dimusnahkan.

Lantas, bagaimana caranya agar kita dapat bertumbuh dan menghasilkan buah yang baik sehingga dikenali sebagai gandum?

Dalam bacaan pertama Musa bertemu dan berbicara dengan Allah seperti seorang sahabat. Allah lalu menyatakan hakikat diri-Nya yakni sebagai Allah yang pengasih dan penyayang. Ia akan memberikan kasih karunia-Nya kepada orang-orang yang hidup dengan takut kepada-Nya dan menaati perintah-perintah-Nya. Musa dan Yesus adalah contoh orang-orang yang mendapat kasih karunia Allah. Karena hidup selaras dengan kehendak-Nya, mereka beroleh kasih dari-Nya. Melalui kedua orang ini Allah juga menyatakan perintah-perintah dan sabda-Nya. Perintah dan sabda-Nya itu dinyatakan kepada Musa untuk diwartakan kepada bangsa Israel, sedangkan Yesus adalah sabda Allah itu sendiri yang menjelma menjadi manusia.

Saudari/i terkasih, apabila kita dapat menghidupi apa yang Allah kehendaki seperti Musa dan Yesus maka kita pasti dapat bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah yang berlimpah. Inilah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Untuk dikenali sebagai gandum atau lalang tergantung pilihan kita masing-masing, mau hidup seturut perintah dan sabda Allah atau tidak. Jadi, Anda itu gandum atau lalang?

(Fr. Antonius Braien El)

“Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman” (Mat. 13:40).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, tuntunlah aku supaya senantiasa hidup dalam jalan kebaikan. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here