Segalanya Mungkin Bagi Allah”: Renungan, Minggu 25 Juli 2021

0
792

Hari Minggu  Biasa XVII (H)

2Raj. 4:42-44; Mzm. 145:10-11,15-16,17-18; Ef. 4:1-6; Yoh. 6:1-15.

“Bagi Tuhan tak ada yang mustahil, bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin, mukjizat-Nya disediakan bagiku, kudiangkat dan dipulihkan-Nya”. Sebuah penggalan lagu dari Sari Simorangkir yang mengandung makna mendalam karena apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah. Sebab ketika Allah bertindak  dan berkehendak maka terjadilah.

Peristiwa memberi makan kepada banyak orang dengan hanya sedikit makanan, merupakan hal yang mustahil. Akan ada banyak orang yang tidak akan mendapatkan makanan atau tidak merasa kenyang. Tetapi hal ini dikisahkan sebagai mungkin dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini. Nabi Elisa menyuruh kepada abdi Allah untuk memberi makan seratus orang dengan sepuluh roti jelai serta gandum. Yesus pun menyuruh murid-murid memberi makan lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ikan. Abdi Allah dan para murid merasa hal ini mustahil dan tidak masuk akal, sebab ada begitu banyak orang.  Tetapi hal ini bisa terjadi dan bahkan ada sisa dari makanan tersebut. Peristiwa ini terjadi karena Yesus dan Elisa bertindak dan percaya dalam nama Tuhan.

Melalui peristiwa tersebut, kita dapat memetik beberapa pesan. Yang pertama, bagi Tuhan segalanya mungkin. Bila Tuhan bertindak segala sesuatu menjadi mungkin. Tinggal manusia sendiri yang harus datang dan berserah dan membiarkan Allah berkarya. Sebab dengan penyerahan diri inilah manusia akan terbuka dan mengenali karya Allah dalam hidupnya.

Yang kedua, kesatuan dengan yang lain. Maksudnya kita semua hidup sebagai satu kesatuan dengan orang lain. Rasul Paulus mengatakan bahwa kita adalah satu jemaat yang terdiri dari satu tubuh, satu Tuhan, satu iman dan satu baptisan. Oleh karena itu dalam kesatuan dengan orang lain, maka kita terdorong untuk hidup dalam kesatuan dengan Kristus, Allah Bapa dan Roh Kudus; dan memperhatikan sesama kita.

Yang ketiga, kita terpanggil untuk hidup dalam kasih. Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk menghayati panggilan hidup dalam kasih kepada Allah dan sesama. Hidup dalam kasih kepada Allah berarti hidup bersekutu, dan menjalankan semua ajaran serta perintah-Nya. Sedangkan, hidup dalam kasih kepada sesama menghantar kita untuk saling membantu, rendah hati, lemah lembut dan sabar. Hal ini lebih ditujukan kepada sesama kita yang membutuhkan pertolongan, terutama mereka yang berkekurangan dan dalam penderitaan. Ketika hal itu dipraktikkan maka kita akan hidup dalam kasih Allah dan mengenal karya-karya Allah dalam diri kita.

(Fr. Dkn. Jito Sanggale)

“Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu” (Ef. 4:2b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga aku siap untuk berbagi satu dengan yang lain. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here