“Benih dan Lahan”: Renungan, Jumat 23 Juli 2021

0
552

Hari Biasa (H)

Kel. 20:1-17; Mzm. 19:8,9,10,11; Mat. 13:18-23.

Ketika para petani hendak membuka lahan untuk bercocok tanam, pelbagai persiapan tentu diperhatikan dan dipertimbangkan dengan saksama, misalnya apa yang mau ditanam, lahan itu baik atau tidak, benih yang berkualitas itu seperti apa, bagaimana hasil panen yang hendak dicapai, berapa untung-ruginya nanti, alat dan bahan apa yang dibutuhkan dan seterusnya. Umumnya para petani justru tidak duduk belajar formal untuk mempersiapkan hal-hal tersebut tetapi terjadi secara otomatis karena adanya pengalaman. Petani yang profesional mampu membedakan mana lahan dan benih yang baik serta cocok sehingga dapat menghasilkan panenan yang berkualitas.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini berbicara tentang benih dan lahan. Bacaan pertama bercerita tentang Sepuluh Firman yang diberikan Allah kepada Musa di Gunung Sinai. Kesepuluh Firman ini adalah pedoman bagi hubungan relasional manusia dengan Allah serta manusia dengan sesamanya. Lantas, Injil hari ini menegaskan agar kita menjadi lahan yang baik bagi Firman Allah tersebut. Firman Allah itu adalah benih yang baik, sedangkan lahan itu adalah hati manusia yang mau menerima benih itu. Setiap orang yang mendengarkan firman dan memahaminya dengan baik, niscaya akan menghasilkan buah yang baik dan berkualitas serta berlipat ganda jumlahnya.

Pengalaman adalah guru yang terbaik! Pepatah kuno ini mengajarkan kita untuk belajar sesuatu dari pengalaman. Dalam konteks ini, kita tidak bisa menjadi lahan yang baik apabila kita sendiri tidak pernah merasakan dan mengalami perjumpaan dengan Allah dalam FirmanNya. Ibarat petani yang berpengalaman; yang mampu membedakan benih dan lahan yang baik, yang pernah mengalami jatuh bangun dalam aktivitas cocok tanam, kita pun perlu belajar untuk menjadi lahan yang baik bagi benih Sabda Allah itu lewat pengalaman intim denganNya.

Bagaimana pengalaman intim itu bisa terjadi? Tentu lewat SabdaNya yang berbicara, yang memampukan kita untuk memahami dan melaksanakannya di tengah pelbagai tantangan dan godaan zaman. Kita tentu ingin memperoleh buah yang baik dan berkualitas, maka sudah semestinya kita pun belajar mengolah, menjaga dan menjadikan lahan pertumbuhan benih itu agar cocok dan subur hingga waktu panenan tiba.

Pemazmur hari ini melantangkan bahwa “Taurat itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.” (Mzm. 19:8). Benih Sabda Allah yang ditaburkan di ‘lahan hati’ setiap manusia itu sempurna bahkan lebih dari itu menyalurkan kesegaran, keteguhan dan hikmat sekalipun bagi orang yang belum berpengalaman.

(Fr. Ubaldus Melsasail)

“Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati…” (Mzm. 19:9a).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, ajarlah kami menjadi lahan yang baik bagi benih Sabda-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here