“Mendengar, Memahami dan Melaksanakan”: Renungan, Rabu 21 Juli 2021

0
617

Hari Biasa (H)

Kel. 16:1-5,9-15; Mzm. 78:18-19,23-24,25-26,27-28; Mat. 13:1-9.

Mendengar, memahami serta melaksanakan merupakan tiga kata yang berkaitan satu dengan yang lain. Seseorang yang diberikan perintah akan mendengarkan perintah tersebut memahaminya serta melaksanakannya. Contohnya dalam upacara bendera, seseorang yang mendengarkan aba-aba penghormatan oleh pemimpin upacara akan memahami aba-aba tersebut dan melaksanakannya dengan gerakan penghormatan seperti yang diminta. Jika orang itu melakukan gerakan lain, maka dapat dipastikan akan membuat suasana menjadi lucu.

Bacaan Injil hari ini menceritakan tentang perumpamaan seorang penabur. Jika kita membaca secara menyeluruh perumpamaan ini, secara khusus pada ayat 18-23, Yesus telah menjelaskan maksud dari perumpamaan ini. Ada hal penting yang Yesus mau ajarkan lewat perumpamaan.

Tuhan Yesus mengajar dengan menggunakan perumpamaan agar setiap orang dapat mendengar, memahami dan mengerti apa yang Ia maksudkan. Sebagai seorang murid, kita diajak untuk berpikir dan menggunakan seluruh kemampuan rasio untuk mendengar dan memahami sehingga pada akhirnya taat melaksanakan perintah-Nya itu. Dengan mendengar, memahami serta melaksanakan sabda-Nya, maka dapat dipastikan bahwa sabda itu akan tetap tinggal dalam diri kita dan diharapkan bisa berbuah dalam setiap tindakan kita. Namun, apabila kita hanya mendengar sabda-Nya tanpa memahami dan melaksanakannya, maka sabda kebenaran itu akan sia-sia dan tidak berbuah.

Bagaimana sabda itu bisa bertumbuh dan berbuah? Perumpamaan dalam Injil hari ini telah menjelaskannya dengan baik. Benih yang ditaburkan itu ialah Firman tentang Kerajaan Surga dan media yang digunakan untuk menumbuhkan benih itu tidak lain daripada hati setiap manusia.

Benih yang jatuh di pinggir jalan, seumpama Firman Tuhan yang didengarkan oleh orang yang tidak memahaminya lalu datanglah si jahat dan merampasnya. Selanjutnya, benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, seumpama Firman Tuhan yang didengarkan dan diterima orang dengan gembira tetapi justru tidak berakar sehingga ketika pencobaan datang, ia tidak tahan uji dan memilih untuk mundur. Benih yang tumbuh di semak duri, seumpama Firman Tuhan yang didengarkan orang tetapi karena kekuatiran dan tipu daya dunia membuat ia layu dan mati. Terakhir, benih yang ditaburkan di tanah yang baik seumpama Firman Tuhan yang didengarkan, dimengerti dan dilaksanakan orang dalam segala tindakannya sehingga dapat berbuah banyak. Kita diminta untuk menjadi tanah yang baik bagi Firman Tuhan agar boleh menghasilkan buah yang berlipat ganda banyaknya dan tentunya berkualitas baik.

(Fr. Alfianus Panji Dianomo)

“Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah” (Mat. 13:8a).

Marilah berdoa:

Ya Allah, ajarilah kami untuk mampu mendengarkan, memahami dan melaksanakan Firman-Mu dengan setia. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here