“Tanda Yang Menyelamatkan”: Renungan, Senin 19 Juli 2021

0
513

Hari Biasa (H)

Kel. 14:5-18; MT Kel. 15: 1-2,3-4,5-6; Mat. 12:38-42.

Setiap hari kita sering diperhadapkan dengan pelbagai peristiwa. Dari peristiwa-peristiwa tersebut, kita sering mengelompokkannya dalam dua hal yakni peristiwa luar biasa dan peristiwa yang biasa-biasa saja. Tak jarang ada orang yang berpikir bahwa ia telah mengalami hari yang sia-sia dalam hidupnya. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh berbagai hal, misalnya gagal ujian, ditolak lamaran kerjanya dan lain sebagainya. Namun, perlu diketahui bahwa Tuhan senantiasa memberikan tanda-tanda yang dapat membuat hidup kita berkembang ke arah yang lebih baik. Misalnya, ketika lamaran kerja kita ditolak, maka kita harus melihat itu sebagai tantangan dan bukan akhir dari segalanya. Kita tidak boleh putus asa dan berpikir bahwa semuanya telah sia-sia. Ketahuilah bahwa Tuhan senantiasa membuka jalan kepada umat-Nya.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang menyatakan diri-Nya sebagai tanda yang menyelamatkan. Tetapi pada kenyataannya, orang-orang Farisi menolak-Nya. Mengapa? Orang-orang Farisi merasa bahwa mereka mendapatkan mandat dan wibawa dalam mengajarkan ajaran-ajaran iman Yahudi. Mereka juga memiliki hak dan wewenang dalam menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan aturan dan kebijaksanaan hidup bagi masyarakat Yahudi. Berbeda dengan mereka, Yesus tidak memiliki mandat dari manusia. Wibawa dan mandat pekerjaan-Nya berasal dari Allah. Hal inilah yang tidak diterima oleh orang-orang Farisi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika mereka meminta tanda dari Yesus. Tanda yang dapat meyakinkan mereka.

Kesaksian hidup Yesus ternyata belum mampu membuat mereka percaya bahwa Ia sesungguhnya adalah Mesias. Ketidakmampuan untuk melihat siapa Yesus disebabkan oleh perasaan iri hati dan kecemburuan sosial. Pengajaran Yesus membuat orang semakin mengenal Allah. Maka, sudah semestinya orang-orang Farisi melihat itu sebagai penyempurnaan pengajaran mereka dan bukannya sebagai ancaman. Namun demikianlah karya-karya kebenaran dan kebaikan, justru tampak menjadi ancaman dan saingan bagi mereka yang orientasi hidupnya bukan pada Allah melainkan pada hal-hal duniawi, kepada popularitas dan kemapanan pribadi saja.

Yesus adalah tanda yang sangat nyata bagi kita. Yesus menjadi tanda bahwa Allah menyayangi umat-Nya; bahwa Allah mengunjungi umat-Nya dengan perantaraan Yesus sendiri. Pertanyaan bagi kita ialah, “Apakah kita berorientasi pada Allah atau pada diri sendiri?”

(Fr. Andre Talia)

Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?”
(Kel. 15:3)
.

Marilah berdoa:

Ya Tuhan Yesus, bukalah mata hatiku untuk melihat tanda keselamatan dariMu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here