“Setia Dalam Tanggung Jawab”: Renungan, Minggu 18 Juli 2021

0
926

Hari Minggu Biasa XVI (H)

Yer. 23:1-6; Mzm. 23:1-3a, 3b-4, 5, 6; Ef. 2:13-18; Mrk. 6:30-34

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan. Kita semua tahu seperti siapa gembala itu, tugas dan juga perannya. Apalagi kalau bukan menggembalakan kawanan (hewan) peliharaan. Kawanan gembalaannya ini dirawat dan dijaga dengan baik. Hal itu dilakukan oleh seorang gembala agar kawanan gembalaannya itu dapat memberikan hasil yang baik pula. Sebaliknya, seorang gembala yang tidak setia menjaga dan merawat kawanan gembalaannya pasti akan mengalami kerugian besar.

Bacaan hari ini yang kita dengarkan sangat menginspirasi kita semua. Penginjil Markus mengajarkan kepada kita untuk menjadi sosok gembala yang baik, gembala yang mau menjaga, merawat dan menuntun kawanannya. Sosok gembala yang baik itu ditunjukkan oleh pribadi Yesus. Markus melukiskan betapa besar perhatian Yesus kepada kawanannya. Perhatian Allah terhadap manusia menjadi dasar pewartaan-Nya yang tidak kenal lelah. Dengan tindakan-Nya ini, Yesus memberikan contoh dan teladan kepada para murid untuk ikut melayani bersama Dia, juga tanpa kenal lelah. Ini tentunya terjadi jika para murid pun tergerak hatinya oleh belas kasihan. Pelayanan para murid menjadi berarti jika pelayanan itu merupakan sebuah peran yang dilakukan dalam cinta pelayanan Yesus demi keselamatan manusia. Motivasi dasar pelayanan inilah yang akan meneguhkan dan menguatkan terutama di kala kita merasa pelayanan kita terasa sia-sia dan tanpa hasil.

Saudara-saudariku terkasih. Dalam kehidupan kita setiap hari terutama dalam panggilan hidup berkeluarga, kita dapat menjadi gembala yang setia seperti yang ditunjukkan oleh Yesus. Seorang kepala keluarga dapat menjaga, merawat dan menuntun keluarganya agar mengalami kasih Yesus. Seorang ibu rumah tangga dapat menjadi gembala bagi keluarganya, dengan setia terhadap suaminya serta menjalankan peran untuk merawat dan mendidik anak-anak agar mengalami cinta kasih. Kesetiaan hidup berkeluarga sebagaimana yang diikrarkan dalam janji suci perkawinan dapat menjadi dasar pelayanan sebuah keluarga Kristiani dalam hidup sehari-hari.

Nabi Yeremia mengamanatkan bahwa seorang gembala harus dapat mempertanggungjawabkan tindakannya dalam menjalankan tugas perutusan yang dibebankan kepadanya. Demikian pula Yesus yang datang ke dunia untuk menjalankan tugas perutusan dari Allah agar semua orang mengalami kasih setia Allah. Yesus datang untuk menyatakan Kerajaan Allah, di mana setiap orang mengalami kedamaian hidup. Karya-karya perutusan Yesus hendak mengajak kita semua bahwa siapa pun berkat kurban salib Yesus, dapat ambil bagian dalam karya keselamatan. Rasul Paulus menegaskan bahwa “oleh Dia kita, kedua pihak, beroleh jalan masuk kepada Bapa dalam satu Roh”. Karena itulah, saudara-saudariku yang terkasih, marilah kita menjadi gembala-gembala yang setia dalam setiap tugas yang diberikan kepada kita apapun jenisnya. Bertanggung jawab atas setiap tugas perutusan serta mampu mewartakan kasih Allah untuk semua orang.

(Fr. Dkn. Stenly Ambun)

“Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka” (Mrk. 6: 34).

Marilaah berdoa:

Tuhan, jadikanlah kami setia akan tugas perutusan-Mu. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here