“Aturan atau Belas Kasihan”: Renungan, Jumat 16 Juli 2021

0
506

Hari Biasa (H)

Kel. 11:10-12:14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; Mat. 12:1-8.

Pada dasarnya manusia selalu membutuhkan aturan untuk dapat bertahan hidup, seperti aturan adat, sipil, komunitas dan lembaga lainnya. Aturan-aturan seperti ini hendaknya dipatuhi oleh manusia agar hidupnya semakin manusiawi dan agar seseorang dapat bertahan hidup dengan kualitas yang baik sebagai manusia. Jika sebuah aturan tidak dapat dipatuhi dapat dipastikan seseorang akan hidup di luar dari keharmonisan. Dengan kata lain, aturan mesti dihargai agar nilai kemanusiaan diangkat dan dimuliakan. Namun, di sisi lain aturan yang dibuat tidak boleh membinasakan manusia melainkan menyelamatkan manusia.

Dalam bacaan injil hari ini, Yesus menegaskan betapa pentingnya peran aturan untuk mengangkat dan memuliakan kemanusiaan manusia. Oleh karena itu, Yesus mengkritik orang-orang Farisi yang ingin mencari kesalahan-Nya. Orang-orang Farisi menganggap para murid telah melanggar hukum Sabat. Bagi mereka orang Yahudi tidak boleh bekerja di ladang pada waktu hari Sabat, dan murid-murid memetik bulir gandum pada hari Sabat. Karena memetik bulir gandum pada hari Sabat, para murid dianggap sama seperti bekerja di ladang. Hal ini membuat orang-orang Farisi begitu marah karena murid-murid Yesus dianggap melanggar hukum Taurat. Orang-orang Farisi merasa menjadi yang paling baik menjalankan hidup agamanya. Namun, kritikan orang-orang Farisi ditanggapi Yesus. Yesus menghendaki belas kasihan, pengampunan dan keselamatan manusia dengan menjalankan dan menghayati perintah-Nya. Yesus yang memberikan hukum Sabat sejak awal mulanya. Yesus berhak mengklaim otoritas lebih dari nabi mana pun atas penafsiran-Nya terhadap Taurat. Maka Yesus menutup jawaban-Nya dengan kalimat “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” yang membuat orang-orang Farisi makin membenci-Nya.

Jawaban Yesus terhadap orang-orang Farisi mengungkapkan bahwa aturan yang dihayati dan dipatuhi tidak boleh merendahkan apalagi membinasakan manusia. Aturan mesti ditegaskan untuk membela kemanusiaan. Karena sesungguhnya manusia adalah tuan atas aturan. Maka sebagai orang beriman, tentu kita menerima aturan atau perintah untuk dilaksanakan, namun akan lebih penting ketika aturan-aturan tersebut digunakan untuk keselamatan sesama. Artinya sebagai orang beriman, kita tidak boleh menutup mata terhadap keprihatinan yang menyelimuti sesama. Karena Yesus sendiri memberi teladan tentang berbelas kasihan kepada kemalangan sampai rela memberikan nyawa-Nya di kayu salib demi keselamatan kita.

(Fr. Natalio Kawarnidi)

“Yang Ku-kukehendaki ialah belas kasihan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Mat. 12:7-8).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berilah aku keberanian, agar mampu berbelas kasih di tengah dunia dewasa ini. Amin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here