“Bersyukur Mendatangkan Kebahagiaan”: Renungan, Rabu 14 Juli 2021

0
732

Hari biasa (H)

Kel. 3:1-6.9-12; Mzm. 103:1-2,3-4,6-7; Mat. 11:25-27.

“Kemiskinan adalah ujian bagi orang beriman dan malapetaka bagi orang tidak beriman,” ujar seorang teolog. Kemiskinan yang sering mendatangkan ketidaknyamanan hidup memang sering membuat orang beriman bertanya-tanya, “Bukankah seharusnya berkat yang kuperoleh dan bukan derita?” Malapetaka yang menimpa orang tidak beriman pun sering mendatangkan peristiwa sulit betulkah semua ini hukuman Tuhan? Semakin rumit lagi karena faktanya orang yang baik pun mendapat malapetaka, sedangkan yang jelas-jelas jahat malah tampak makmur, segalanya tercukupi dan bahagia.

Dalam bacaan injil hari ini, Yesus mengatakan hal yang sulit dimengerti: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” Yesus bersyukur karena Allah menyembunyikan semuanya bagi orang bijak pandai dan menyingkapnya bagi orang kecil. Bukankah seharusnya Allah menyingkapkan semuanya bagi orang bijak pandai dan menyembunyikan bagi orang kecil? Rupanya orang bijak yang dimaksudkan adalah orang terpelajar, berilmu, pintar, ilmuwan; sedangkan orang kecil artinya orang yang belum berilmu. Orang bijak memiliki pengetahuan mendalam tentang Allah dan akhirnya menolak Yesus; sedangkan orang kecil merasa tidak tahu banyak tentang Allah, tetapi mengakui kehadiran Allah dalam diri Yesus. Karena itu, bagi orang-orang kecil dinyatakanlah “semuanya itu”. “Semuanya itu” berkenaan dengan Bapa yang mempercayakan segala sesuatunya kepada Yesus, yakni kuasa sebagaimana yang dimiliki-Nya sendiri.

Umat yang terkasih, terkadang ketika sedang berada di posisi yang berkelimpahan, kita sering melupakan Tuhan sehingga kita menjauh dari pada-Nya. Dan terkadang pula ketika kita sedang berada dalam masa yang sulit, kita selalu berkeluh kesah, seakan-akan menganggap Tuhan telah menjauh dari hidup kita. Itu sebabnya, kadang kita yakin bahwa kuasa Allah ada dalam diri Yesus, tetapi kita tidak bisa mengandalkan Yesus. Untuk itu, tidak jarang kita pun mundur dari perutusan memberitakan Injil kebenaran saat kesulitan. Kita adalah murid-murid Kristus zaman ini yang seharusnya percaya dan memberikan diri sepenuhnya kepada-Nya. Apa mau kita sekarang? Oleh karena itu, saya mengajak kita semua untuk dalam keadaan apapun baik itu dalam kelimpahan maupun kesusahan, kita tetap bersyukur karena Tuhan telah merencanakan sesuatu yang terbaik ke depannya yaitu kebahagiaan.

(Adrianus Wermasubun)

“Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat. 11:25).

 Marilah berdoa:

Tuhan, ajarilah kami untuk senantiasa bersyukur kepada-Mu. Amin

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here