Refleksi: “Keluarga Kristiani sebagai Seminari Kecil”

0
266

Keluarga merupakan tempat di mana karakter seseorang terbentuk, entah tumbuh menjadi orang yang baik maupun jahat. Orang tua dan saudara-saudara berperan dalam membentuk seseorang. Keluarga menjadi tempat pertama kita belajar mengenal, menyapa, mencintai dan sebagainya. Kedua orang tua menjalankan peran dan tanggung jawab mereka yakni membina, mendidik, dan menghidupi anggota-anggota keluarganya.

Melalui keluarga kita belajar banyak hal, salah satunya sopan santun. Hal inilah yang menjadi dasar paling utama, yang harus diajarkan oleh kedua orang tua kepada anak-anaknya. Tugas untuk membina anggota keluarga merupakan tugas utama kedua orang tua (mama dan papa). Pembinaan tersebut selalu diberikan kepada anak, dengan harapan bahwa anak mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bijak sehingga dapat berguna bagi banyak orang.

Peran dalam keluarga tersebut dijalankan pula dalam pembinaan di lembaga pembinaan seperti di seminari. Berangkat dari peran keluarga di atas, maka keluarga kristiani dilihat sebagai seminari kecil. Keluarga merupakan kelompok kecil yang membentuk suatu rumah bina pertama, sehingga keluarga menjadi dasar dari pengenalan seseorang terhadap orang lain. Keluarga merupakan tempat pertama yang dikenal oleh seorang anak sebelum mengenal dunia yang lebih luas.

Keluarga sebagai seminari kecil, artinya melalui keluarga benih-benih panggilan rohani pada anak-anak dapat dibentuk. Hidup rohani anak sejak dini haruslah dibentuk dengan matang oleh kedua orang tua sebagai orang yang bertanggung jawab atas anak-anak mereka. Sebab, benih rohani yang ditaburkan oleh orang tua kepada anak sejak masa kecil dapat berbuah lebat ketika anak telah tumbuh menjadi dewasa.

Sangat diharapkan bahwa keluarga kristiani dapat membina dan mendidik anak-anak mereka dengan ajaran rohani maupun moral yang kiranya dapat membantu perkembangan psikologi anak, sehingga kepribadian anak menjadi baik. Perlulah bagi orang tua untuk menjaga dan melindungi serta mendidik anak dengan baik, sebab perilaku anak kepada orang lain mencerminkan situasi keluarga. Dengan demikian hal ini menjadi bahan pembelajaran bagi setiap orang tua, untuk mampu membina keluarga menjadi tempat yang nyaman dan sangat baik untuk belajar bagi anak-anak. Sebab itu, orang tua haruslah memadukan unsur rohani dalam mendidik anak sehingga anak dapat bertumbuh menjadi pribadi yang mengamalkan ajaran Yesus dalam kehidupannya setiap hari.

Berangkat dari itu, setiap keluarga kristiani memiliki cita-cita agar dapat menghidupi cara hidup Keluarga Kudus di Nazaret (Yusuf, Maria dan Yesus). Keluarga kudus merupakan gambaran ideal keluarga yang patut diteladani. Keluarga Kudus menampilkan hal yang berbeda dengan keluarga-keluarga pada umumnya. Hal yang ditampilkan itu tidak lain ialah penerimaan satu dengan yang lainnya. Motivasi tersebut menuntun setiap keluarga kristiani ke arah yang lebih baik; artinya mengamalkan segala perbuatan yang diajarkan di dalam Kitab Suci dalam membentuk keluarga kristiani layaknya suatu tempat pembinaan seperti seminari. Dengan demikian tidak salah bahwa keluarga kristiani dilihat sebagai tempat pembinaan seperti seminari kecil.

(Fr. Philipus Rahae)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here