“Keajaiban Dunia”: Renungan, Selasa 13 Juli 2021

0
493

Hari Biasa(H)

Kel. 2:1-5a; Mzm. 69:3,14,30-31,33-34; Mat. 11:20-24

Seorang guru memberikan tugas kepada murid-muridnya untuk menyebutkan tujuh keajaiban dunia. Sebagian besar murid segera menuliskan jawabannya di kertas mereka. Namun, Alexsandra hanya termangu-mangu di bangkunya. Dan ketika jam pelajaran hampir selesai, kertasnya masih kosong. Gurunya heran karena Alexsandra tergolong anak yang cerdas. “Masakan kau tidak tahu satu pun keajaiban dunia Alexandra?” tanya gurunya. “Sebenarnya banyak Bu, tapi saya bingung memilih yang mana. “Kening gurunya berkerut dan meminta Alexandrandra menjelaskan. Alexandra pun menyebutkan keajaiban dunia versinya: bisa melihat, bisa mendengar, bisa berkata, bisa menyayangi dan sebagainya. Gurunya tertegun, sekaligus tersadar betapa mudah kita mengagumi karya hebat buatan manusia dan mengangap biasa saja keajaiban yang Tuhan karuniakan secara cuma-cuma kepada kita.

Kisah injil hari ini berbicara tentang Yesus mengecam kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum. Di kota-kota itu banyak mujizat yang dilakukan oleh Yesus, tetapi orang-orang tidak bertobat. Bahkan Kapernaum disebut sebagai They City of Jesus, karena karya dan pelayanan Yesus banyak terjadi di kota itu. Kendati demikian, toh mereka dikecam karena hanya kagum dan terpesana akan mujizat-Nya, namun tidak sampai percaya dan bertobat memperbaharui diri. Kota-kota itu termasuk daerah yang pertama kali mendengar berita pertobatan yang disampaikan Yesus. Namun kota-kota itu bergeming. Berita injil dan mukjizat Tuhan tak menggugah mereka untuk bertobat dan berbalik dari kejahatan mereka. Ketidak- percayaan mereka membuat Yesus mengecam mereka. Bahkan Dia menyatakan bahwa penduduk Sodom akan bertobat sekiranya mereka menyaksikan mujizat yang terjadi di Kapernaum. Kota Sodom dimusnahkan Allah dengan hujan api dan belerang akibat dosa mereka. Dan Yesus menyatakan penghakiman-Nya bahwa tanggungan Kapernaum akan lebih berat dibanding Sodom di hari penghakiman.

Kisah itu hendak mengatakan bahwa ternyata menyaksikan mujizat serta mendengarkan pengajaran yang hebat tidak serta merta membuat seseorang bertobat. Diperlukan kerendahan hati untuk mengaku diri sebagai pendosa, lalu menerima karya keselamatan yang dikerjakan Allah di dalam Kristus bagi kita. Ini adalah anugerah yang besar. Namun jika disia-siakan, kita sedang memilih penghukuman ditimpakan atas kita seperti penduduk Kapernaum.

(Fr. Pieter Daing Lermatan)

“Celakalah engkau Khorazim! Celakalah Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung” (Mat. 11:21).

Marilah berdoa:

Allah Bapa yang penuh kasih, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu, hati yang penuh dengan kesetiaan dan kepercayaan. Agar kami bisa memancarkan kesetiaan dan kepercayaan  itu kepada orang-orang yang berada di sekitar kami. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here