“Menderita karena Mengasihi” Renungan, Senin 12 Juli 2021

0
738

Hari biasa (H)

BcE Kel. 1:8-14,22; Mzm. 124:1-3,4-6,7-8; Mat. 10:34-11:1.

Sampai pada pertengahan tahun 2021 ini, dunia masih diliputi pandemi covid-19. Ketakutan masih melanda manusia. Penderitaan, kehilangan, duka dan kecemasan membekas dalam diri setiap orang. Kedamaian, keharmonisan, kenyamanan dan ketentraman diusik, dipisahkan dan digoyahkan oleh pandemi.

Bacaan pertama mengisahkan bagaimana Israel yang adalah anak sulung Allah, ditindas oleh bangsa Mesir. Mereka dibatasi untuk berkembang. Mereka dipekerjakan. Namun yang menarik, mereka tetap bertambah banyak karena Allah menyertai mereka. Sama halnya dengan kita yang mengalami banyak masalah karena pandemi covid-19. Namun percayalah bahwa Allah akan menyertai kita.

Kadang penderitaan memurnikan iman kita. Penderitaan menyadarkan kita bahwa segala sesuatu yang kita perjuangkan akan lenyap. Tetapi, Allah yang mengasihi kita tidak akan lenyap. Orang Kristen harus menjadi Kristen yang kuat dan kokoh. Harus menjadi Kristen yang berakar karena ditimpa berbagai penderitaan. Jangan kita menyangka bahwa nasib sebagai anak Allah ialah mengalami kemudahan dan menerima berbagai rahmat dan berkat secara instan. Orang Kristen adalah orang yang mampu memikul salibnya.

Dalam pesan-Nya kepada para murid, Yesus menegaskan beberapa hal yang cukup mengganggu telinga, pikiran dan hati para murid. Yesus mengatakan hal-hal yang tidak pernah dibayangkan oleh para murid. Para murid mungkin membayangkan Yesus sebagai Mesias yang datang membawa kemudahan bagi mereka. Tampak bahwa Yesus mengetahui isi pikiran dari para murid tentang Dia. Dengan tegas Yesus mengajarkan para murid agar harus memiliki hati yang siap menderita. Kalau mau menjadi pengikut-Ku maka harus siap menderita,

Menderita karena mengasihi Allah. Menderita karena berjuang demi kebenaran. Menderita karena mengasihi yang tak dikasihi dunia. Itulah penderitaan orang Kristen. Mengasihi sampai terluka. Mengasihi sampai menderita dan wafat. Penderitaan orang Kristen harus didasarkan pada kasih akan Allah dan sesama.

Bagi kita umat beriman, penderitaan bukanlah hal yang menakutkan. Setiap orang tidak boleh menjauhi penderitaan. Penderitaan akan memurnikan kita untuk semakin kuat dan teguh dalam menjalani kehidupan kita. Jika kita harus mengalami penderitaan karena kasih kita kepada sesama dan Tuhan maka murnilah penderitaan kita. Jika saat ini kita berada di masa-masa sulit, banyak tugas, banyak tantangan dalam hidup rumah tangga, banyak keperluan yang tidak dapat terpenuhi, banyak penyakit yang diderita, ingatlah bahwa kita akan mencapai kebahagiaan karena sementara memikul salib bersama Tuhan. Imanuel.

(Fr. Alowisius A.S. Sormudi)

“Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagi-Ku (Mat. 10:38).

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, mampukanlah kami untuk memikul salib hidup kami setiap hari. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here