“Pertempuran Melawan Ketakutan”: Renungan, Jumat 9 Juli 2021

0
666

Hari Biasa (H)

BcE Kej. 46:1-7,28-30; Mzm. 37:3-4,18-19,27-28,39-40; Mat. 10:16-23;

Saudara-saudari yang terkasih. Seorang bijak pernah berkata: “Ujian penderitaan adalah ujian yang paling ringan. Ujian terberat adalah ketika seseorang merasa bahwa ia berkuasa”. Di dunia sekarang ini, ada banyak orang yang takut menderita. Bacaan pertama menceritakan hal serupa. Yakub dan Bangsa Israel berani berangkat ke Mesir, karena Allah telah meneguhkan mereka dengan janji yang bercorak politik, yakni menjadikannya bangsa yang besar. Namun sebelumnya mereka takut ke Mesir. Takut ditindas, dianiaya, dan hidup sengsara ketika berada di Mesir.

Bukan hanya orang-orang pada zaman sekarang dan zaman Perjanjian Lama yang takut akan penderitaan dan kesengsaraan. Namun para rasul pun dalam bacaan Injil merasa takut ketika diutus Yesus mewartakan Kerajaan Allah. Bagaimana mereka tidak merasa takut? Sebelum perutusan, Yesus sudah menjelaskan apa yang akan mereka alami dalam menjalankan tugas perutusan. Isi penjelasan itu ialah penindasan, penganiayaan, dan kebencian bagi mereka yang percaya kepada Yesus. Tapi sama halnya dengan Yakub dan Bangsa Israel, para rasul pun menjadi berani ketika Yesus menjanjikan keselamatan bagi mereka yang bertahan dalam penderitaan.

Jadi sebagai orang Kristen, ujian penderitaan dan kesengsaraan yang kita alami di dunia ini sebenarnya tidak sulit. Cukup percaya kepada Yesus, maka kita akan dibebaskan dari penderitaan dan kesengsaraan. Kita akan diselamatkan. Kepercayaan seperti inilah yang membuat Yakub dan Bangsa Israel serta para rasul berani menghadapi penderitaan dan kesengsaraan. Jikalau kemudian ada orang Kristen yang merasa tidak mampu menghadapi penderitaan dan kesengsaraan dalam hidup, imannya kepada Yesus dipertanyakan. Sebab sudah jelas Yesus katakan: “Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat”(Mat. 10:22). Tetapi jika masih takut, berarti iman kita lemah untuk mempercayai janji Yesus itu.

Rasa takut itu manusiawi. Semua orang pasti punya rasa takut. Tetapi akan menjadi tidak manusiawi ketika kita mengalah pada ketakutan. Jika kita kalah dengan ketakutan, berarti kita lupa janji Yesus. Jika kita lupa janji Yesus, berarti kita kurang dekat dengan Yesus. Oleh karena itu, untuk dapat menang dalam pertempuran melawan ketakutan akan kesengsaraan dan penderitaan, cukup dekatkan diri dengan Yesus. Namun jangan sampai kita hanya dekat dengan Yesus ketika kita mengalami penderitaan dan kesengsaraan. Kalau sudah senang, bahagia, berkuasa, sudah lupa dengan Yesus. Dan inilah ujian terberat kita. Seberapa sering kita datang kepada Yesus, ketika kita punya segalanya?

(Fr. Andreas Masaroni)

“Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat. 10:16).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jangan biarkan aku terlena oleh kekuasaan duniawi. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here