“Konsekuensi Mengikuti Yesus”: Renungan, Kamis 8 Juli 2021

0
499

Hari Biasa (H)

Kej. 44:18-21, 23b-29; 45:1-5 Mzm. 105:16-17, 18-19, 20-21; Mat. 10:7-15
Saudara-saudari sekalian, setiap orang pasti pernah merasakan pengalaman jatuh-bangun dalam mengikuti Yesus. Mengikuti Yesus tidaklah mudah. Kita butuh pengharapan dalam iman yang besar. Kita butuh keteguhan hati yang kuat untuk bisa menjadi murid yang setia. Sekalipun  badai datang silih berganti menerpa hidup kita, namun jika kita percaya kepada Yesus, maka kita akan merasakan kebahagiaan.

Penderitaan seperti inilah yang dirasakan oleh Yusuf dalam bacaan pertama. Sekalipun ia  dijual oleh saudara-saudaranya, namun ia tetap percaya kepada kasih Tuhan yang selalu  menyertainya. Ia tidak membalas semua perbuatan mereka, sebab baginya, jika saudara-saudaranya tidak menjual dia, maka hidup mereka akan melarat. Dan akhirnya, ia dapat menyelamatkan hidup keluarganya, dengan memberikan kepada mereka gandum secara cuma-cuma, karena kedudukan yang ia dapatkan dalam kerajaan juga secara cuma-cuma.

Adapun dalam  Injil dijelaskan bahwa Yesus mengutus keduabelas murid-Nya untuk  pergi dan masuk ke dalam kota-kota untuk mewartakan kepada semua orang bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Ia juga memberi kuasa kepada mereka untuk dapat menyembuhkan setiap orang yang sakit. Namun dalam perutusan itu, Yesus melarang para rasul untuk membawa emas, perak, tembaga, bekal, dua helai baju, kasut atau tongkat. Oleh karena itu, kita dapat mengerti bahwa Yesus menghendaki agar para murid fokus hanya pada hal surgawi, yakni mewartakan Kerajaan Allah, dan bukan fokus pada hal-hal duniawi.

Secara manusiawi, hal maaf-memaafkan mengandung suatu kesulitan tersendiri dalam diri manusia. Sekalipun masih merupakan anggota keluarga, ada orang yang tetap kesulitan jika diperhadapkan dengan situasi seperti pengalaman Yusuf.  Setiap orang juga  akan merasa keberatan jika tidak membawa bekal apapun dalam tugas pewartaan yang diberikan Yesus.

Dari bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini, kita diajak untuk mewartakan Kerajaan Allah secara total kepada setiap orang yang ada di sekitar kita. Kita diajarkan untuk bertugas atas dasar kasih. Ketika dalam menjalankan tugas kita dipertemukan dengan konflik, maka utamakanlah kasih, dalam usaha penyelesaian masalah. Kita harus rendah hati dan juga berani meminta maaf ataupun memaafkan orang lain. Kita akan mampu menjalankan tugas pewartaan secara total ketika kita fokus hanya kepada apa yang hendak kita wartakan.

(Fr. Kristianus Batlayeri)

“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat”  (Mat. 10:7).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah kami berkat bagi semua orang. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here